Esensi Berkurban Terhadap Hakikat Sifat Manusia

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 3 Juni 2025 | 16:52 WIB
Ilustrasi - Syarat kambing kurban yang sesuai syariat. (Pexels/Boys in Bristol Photography)
Ilustrasi - Syarat kambing kurban yang sesuai syariat. (Pexels/Boys in Bristol Photography)

Sudah menjadi kelaziman bagi seluruh muslim bahwa setiap bulan Zulhijah, bulan terakhir dalam kalender Hijriyah, terdapat hari-hari di mana umat Islam disunahkan (bahkan sebagian ulama mewajibkan bagi yang mampu) untuk melaksanakan ibadah kurban, yaitu menyembelih binatang yang telah memenuhi kriteria untuk dijadikan persembahan kepada Tuhan.

Jika ditelisik dari akar katanya, "kurban" berasal dari bahasa Arab, "qoruba," yang berarti mendekatkan diri. Dengan demikian, ibadah kurban adalah upaya seorang hamba untuk dapat lebih dekat dengan Tuhannya.

Hubungan kurban dengan pendekatan diri kepada Tuhan sebenarnya sangat mendalam dan luas maknanya.

Penyembelihan hewan yang diniatkan untuk ibadah kurban adalah sebuah simbol bahwa di dalam diri kita terdapat sifat-sifat yang perlu "disembelih".

Agar kita kembali menjadi manusia yang sebenarnya, seperti keangkuhan, kesombongan, merasa paling benar, kerakusan, iri dengki, dan berbagai sifat lain yang tertanam dalam diri yang perlu dihilangkan agar kita kembali menjadi manusia fitri.

Contohnya, keangkuhan yang hanya layak disandang oleh Tuhan karena ke-Maha-an-Nya, kesombongan yang menjadi sebab iblis dikutuk selamanya, serta merasa paling benar dan rakus yang lebih pantas disematkan kepada binatang. Itulah semua sifat yang harus "dikurbankan" dari diri manusia.

Di samping itu, melaksanakan kurban juga merupakan buah dari manifestasi cinta seorang hamba kepada Tuhannya.

Bagaimana mungkin seseorang mengaku cinta jika tidak ada kerelaan untuk berkorban demi yang dicintai?

Jalan seorang pencinta mengharuskan adanya kerelaan untuk menyerahkan kepemilikan kepada Yang dicintai, yaitu Tuhan Yang Maha Kasih.

Bagaimana kita dapat mengklaim cinta jika kita enggan untuk menyerahkan apa yang kita cintai kepada Sang Kekasih sejati, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa?

Oleh: Mualif, S. Kom. I

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X