Oleh: MJ.Wijaya
Di tengah heningnya ingatan kolektif bangsa terhadap warisan intelektual lokal, Pakuan Pajajaran hadir sebagai salah satu mozaik sejarah yang menggugah permenungan benarkah nusantara hanya mengenal pusat sains di Borobudur atau Majapahit?
Mengapa Pakuan, yang dahulu menjadi jantung Kerajaan Sunda, tenggelam dalam kabut mitos dan reduksi simbolik sebagai sekadar kota raja? Sejarah diam bukan karena tak ada suara, tetapi karena dipaksa diam oleh narasi besar yang mengabaikan kearifan lokal.
*Pakuan sebagai Pusat Ilmu Pengetahuan Tradisional*
Pakuan Pajajaran bukan sekadar pusat politik; ia adalah situs pengetahuan. Di kota ini, sebagaimana disebut dalam Carita Parahyangan dan naskah Bujangga Manik, berkembang tradisi kawih, kakawihan, hingga nangnang endah, yaitu bentuk-bentuk literasi sains dan filsafat lokal dalam wujud puisi, nasihat raja, dan kosmologi Sunda.
Tradisi intelektual ini tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga ditulis dalam aksara Sunda kuno yang kini terlacak dalam lontar-lontar di Perpustakaan Bodleian, Oxford (Bujangga Manik, ff. 1-37).
Dalam sistem kosmologi Sunda kuna, terdapat pembagian alam dalam tiga bagian: Buana Nyungcung (alam tinggi para dewa), Buana Panca Tengah (alam manusia), dan Buana Larang (alam bawah atau kegelapan).
Konsep ini mencerminkan struktur filsafat ontologis Sunda yang memiliki kesadaran akan hierarki realitas. Ini mengingatkan kita pada pembagian alam al-mulk, alam al-malakut, dan alam al-jabarut dalam kosmologi Islam, dan juga pada konsep Plato tentang dunia ide.
Menurut arkeolog Edi S. Ekadjati, Pakuan adalah pusat pendidikan elite kerajaan yang memiliki "pusat-pusat pengajaran rahasia" seperti di Gunung Salak dan Leuweung Larangan. Di tempat-tempat ini diajarkan ilmu-ilmu tatanegara, astronomi lokal, pengobatan herbal, hingga penguasaan bahasa dan diplomasi. “Pakuan bukan hanya ibu kota, tapi juga universitas terbuka di alam Sunda,” tulisnya dalam Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Historis (1995).
*Astronomi dan Pengetahuan Waktu*
Pengetahuan tentang waktu dan perbintangan menjadi bagian penting dalam kehidupan ilmiah Pakuan. Kalender Sunda Kuna tidak hanya mengenal sistem solar (surya) tetapi juga lunar (candra), dan penggabungan keduanya menghasilkan sistem pranata mangsa yang amat presisi untuk pertanian.
Wuku, sasih, dan mangsa bukan sekadar istilah waktu, melainkan dasar untuk menentukan waktu tanam, ritual, dan perjalanan.
Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian menyebut adanya jabatan pandita dan karuhun yang bertugas membaca tanda-tanda langit dan pergerakan benda angkasa.
Ini bukan tahayul, melainkan bentuk awal ethnoastronomy yang berbasis observasi empirik, jauh sebelum kolonialisme mengenalkan "ilmu pasti" versi Eropa. S
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Dengan Kata (Bagian 1860)
Redi Supriadi Raih Dukungan Terbanyak, Resmi Jabat Ketua Karang Taruna Cipetir
Konspirasi Kebohongan
Esensi Berkurban Terhadap Hakikat Sifat Manusia
Ketika 'Visa Langit' Tertutup, Impian Haji Furoda Ratusan Juta Rupiah Pupus
Mutiara Pagi: Berguru pada Orang Gila (Bagian 1861)
Hasbiallah Ilyas Minta Kejagung Jaga Proporsionalitas dalam Tangani Kasus Korupsi
Mahasiswa UNPI Cianjur, Haidar Ali, Gagas Program “Obras Barabe”: Obrolan Santai Bareng Orang Hebat dari Berbagai Kalangan
Bupati Hadiri Rakor Antikorupsi dan Penandatanganan Nota Kesepakatan di Gedung Pakuan, Wabup Tinjau Operasi Pasar Murah
Korupsi Berjamaah APBD