Pemerintah pusat dan daerah, akademisi, serta para pemikir kebudayaan harus mengambil sikap tegas: warisan budaya bukan beban, melainkan fondasi. Situs Cipari harus diangkat sebagai kawasan konservasi dan pendidikan publik. Ia harus dikaji ulang secara komprehensif, dilibatkan dalam narasi sejarah nasional, dan dijadikan pusat kajian prasejarah Nusantara. Jangan lagi membiarkan situs seperti Cipari menjadi "museum bisu" tanpa narasi, tanpa perhatian, tanpa pelibatan komunitas.
Di era digital, situs seperti Cipari juga bisa menjadi kekuatan ekonomi dan budaya. Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan mampu mengangkat situs-situs sejarah lokal mereka sebagai sumber identitas nasional yang membanggakan. Mengapa kita tidak?
*Penutup: Melawan Lupa, Merawat Ingatan*
Situs Cipari bukan hanya batu dan tanah; ia adalah saksi peradaban. Ia adalah warisan spiritual, sosial, dan intelektual masyarakat Sunda kuno. Melupakan Cipari sama saja dengan mengkhianati leluhur dan mengabaikan jati diri bangsa.
Mari kita lawan lupa. Mari kita rawat ingatan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya yang membangun gedung pencakar langit, tetapi yang menghormati pondasi leluhurnya.
Artikel Terkait
IPPAQI Kabupaten Cianjur Raih Juara Umum di Panggung Al-Qur'an Tingkat Jawa Barat
Mutiara Pagi: Jihad Intelektual (Bagian 1845)
Jangan Melawan Orang Cantik, Kita Akan Kalah
Kelas Desain Grafis PMII STAI Al-Azhary Cianjur Tajamkan Kreativitas
Jalan Ninja Kaesang yang Terancam Pengangguran, Menyedihkan
Insan min al-Bad’i ila al-Khalud: Telaah Filsafat Eksistensial dalam Pandangan Syaikh Jawadi Amuli
Mutiara Pagi: Bangkitlah (Bagian 1846)
Hari Kebangkitan Nasional: Ironi Bangsa yang Tak Pernah Bangkit
Kebangkitan Pendidikan Nasional: Refleksi di Tengah Labirin Kurikulum
Stasiun Radio Malabar: Megafon Kolonial yang Terbenam dalam Duka Nasional