Kebangkitan Pendidikan Nasional: Refleksi di Tengah Labirin Kurikulum

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 20 Mei 2025 | 21:06 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ungkap kegiatan pendidikan sehari-hari anak nakal di barak militer (YouTube Humas Jabar)
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ungkap kegiatan pendidikan sehari-hari anak nakal di barak militer (YouTube Humas Jabar)

Coba bayangkan sebentar: Anda seorang guru di pedalaman Flores yang telah mengabdi selama dua dekade. Setiap pagi menyeberangi sungai, memanjat bukit, dan berjalan sejauh lima kilometer demi memastikan anak-anak kampung mendapatkan pencerahan.

Namun, alih-alih diberikan alat pancing yang kokoh, Anda justru direcoki pergantian kurikulum yang lebih sering dari seragam dinas.

Setiap pergantian menteri, berganti pula buku pedoman. Setiap rezim baru, paradigma berubah. Di tengah pusaran perubahan ini, Anda hanya bisa tersenyum getir sembari bertanya-tanya: di manakah letak "kebangkitan" dalam pendidikan nasional yang seperti layang-layang putus tali ini?

Refleksi di Hari Kebangkitan Nasional

Hari Kebangkitan Nasional ke-117 seharusnya menjadi momentum refleksi mendalam tentang esensi kebangkitan itu sendiri. Bukan sekadar upacara bendera atau unggahan media sosial dengan tagar patriotik, melainkan perenungan: sudahkah pendidikan kita benar-benar bangkit, atau justru tersesat dalam lingkaran perubahan tanpa substansi?

Dari Boedi Oetomo ke “Budi Otomatis”

Ketika Dr. Soetomo dan rekan-rekannya mendirikan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, mereka menanam benih revolusi pendidikan yang menjadi fondasi pergerakan nasional. Namun kini, setelah 117 tahun, kita seolah telah beralih dari Boedi Oetomo ke "Budi Otomatis"—sistem mekanis yang kerap berganti wajah tanpa membenahi isi, mencetak generasi penghafal yang miskin nalar kritis.

Konsistensi yang Hilang

Dulu, buku pelajaran dapat diwariskan dari kakak ke adik kelas, karena isi dan metodenya konsisten selama bertahun-tahun. Kini, setiap pergantian kebijakan menuntut cetak ulang, pelatihan ulang, dan adaptasi ulang yang melelahkan. Seorang kepala sekolah di Jember bahkan menyamakan kurikulum kita seperti "baju lebaran anak kecil—setiap tahun ganti, mahal, tapi cepat ketinggalan model."

Guru sebagai Benteng Terakhir

Di tengah semua itu, guru tetap menjadi pilar utama pendidikan. Sayangnya, mereka sering dibiarkan berjuang sendiri. Dengan gaji minim, beban administrasi yang menumpuk, serta pelatihan instan yang dangkal, guru tetap dituntut menjadi motor penggerak perubahan. Padahal, di negara-negara maju, guru justru mendapat penghargaan dan fasilitas setara profesional elit.

Teknologi: Solusi yang Belum Siap

Digitalisasi yang dipercepat oleh pandemi seharusnya menjadi berkah. Namun, kenyataannya menciptakan kesenjangan. Di satu sisi, siswa di kota besar menikmati Zoom dan platform e-learning. Di sisi lain, siswa di daerah pelosok memanjat bukit demi sinyal. Literasi digital yang rendah hanya memperparah jurang ini, menjadikan teknologi lebih sebagai dinding pembatas daripada jembatan penghubung.

Vokasi yang Tersesat Arah

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X