Selain, para petani cukup sedih, karena tidak bisa menikmati nikmatnya kenaikan harga beras, ternyata sebagai "net consumer", pada suatu waktu petani padi akan membeli beras di pasar.
Ini terjadi, karena budaya lumbung yang selama ini menjadi nilai kehidupan dalam kaum tani, kini tengah mengalami pemudaran. Budaya lumbung, kalah oleh sikap petani yang membutuhkan uang tunai.
Pertanyaan lain yang butuh jawaban nyata dari Pemerintah adalah mengapa setiap musim panen datang, harga gabah kering panen selalu anjlok. Untuk itu, lumrah jika banyak pihakbbertanya, ada "kesepakatan" apa antara Pemerintah dengan para bandar dan tengkulak, sehingga setiap musim panen harga gabah selalu anjlok ? Padahal, petani tentu akan senang jika saat panen harga gabah meningkat cukup signifikan.
Petani padi, rata-rata berharap agar Pemerintah betul-betul mampu mengajak para bandar dan tengkulak, agar saat musim panen, mereka tidak "memainkan" harga gabah yang merugikan petani. Perum Bulog dituntut tampil sebagai operator pangan yang dapat menjaga harga gabah di tingkat petani supaya berada pada angka yang wajar.
Sebagai sahabat sejati petani, Perum Bulog, sangat diharapkan mampu memperlihatkan keberpihakannya kepada para petani. Atau bisa juga dikatakan, Perum Bulog "mewakili" Pemerintah, Perum Bulog hadir di tengah kesulitan para petani. Ini penting, karena petani akan senang, kalau Pemerintah dapat menunjukkan empatinya kepada para petani.
Kalau kita memang mencintai petani padi, yang sekarang bukan lagi hanya sebagai produsen, tapi juga tercatat selaku "net consumer", maka yang perlu dirancang Pemerintah adalah bagaimana meningkatkan harga gabah sekaligus menurunkan harga beras di padar. Kedua kebijakan ini, perlu ditempuh secara bersamaan, sehingga mampu memberi rasa adil kepada petani dan emak-emak.
Keluhan petani padi agar Pemerintah dapat melahirkan harga gabah dan harga beras wajar, sebetulnya telah disampaikan secara langsung kepada Presiden Jokowi, di sela-sela kunjungan kerjanya ke daerah.
Presiden pun langsung merespon dan menugaskan para Pembantunya untuk sesegera mungkin menciptakan harga gabah dan harga beras wajar.
Sayang, dalam perkembangannya, tugas dari Presiden tersebut belum dapat diwujudkan. Petani tetap mengeluhkan harga gabah yang selalu melorot saat musim panen datang, dan emak-emak selaku konsumen tetap mengeluh karena harga beras di pasar terekam susah untuk diturunkan ke harga yang wajar itu.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Pesan Sang Guru (Bagian 1629)
Prakiraan Cuaca Wilayah Jawa Barat, Siapkan Payung dan Jas Hujan
Isolasi Sosial Akibat Media Sosial
10 Tahun Jokowi, 2014-2024: Sukses atau Gagal?
KPK Tetapkan 4 Tersangka Kasus Bandung Smart City
Mutiara Pagi: Semesta Kecil yang Perlu Dibaca (Bagian 1630)
Inilah Cara Mempelajari Ilmu Hadis Secara Bertahap
Sasar Generasi Muda, KPK Luncurkan Platform Tiktok
Istighfar Anak Shaleh mengangkat Derajat Orang Tuanya di Surga
79 Tahun KAI, Prioritaskan Keselamatan dan Keberlanjutan