opini

Ujung Zulfa, Ketika Konflik NU Diselesaikan Lewat Penjabat Ketua Umum

Kamis, 11 Desember 2025 | 05:00 WIB
Nasaruddin Umar hadir sebagai Wakil Rais Syuriyah saat menghadiri Rapat Pleno PBNU di Jakarta.

Tentu Gus Yahya tidak dapat menerima keputusan ini, mengingat peran Muktamar dalam penentuan Ketua Umum. Namun, perlawanan Gus Yahya menjadi sulit jika posisi Sekretaris Jenderal PBNU masih dijabat oleh Gus Ipul (Saifullah Yusuf), yang kini menjabat sebagai Menteri Sosial.

Dalam langkah balasan, Gus Yahya, yang masih merasa sebagai Ketua Umum sah, memberhentikan Gus Ipul dan mengangkat Sekjen baru: Dra. Amin Said Husni, mantan Bupati Bondowoso.

Langkah Gus Yahya ini dinilai sebagai tindakan 'mbalelo' terhadap keputusan Rais Aam Syuriah. Oleh karena itu, diselenggarakanlah Sidang Pleno Syuriah-Tanfidziyah PBNU pada Selasa malam di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta. Kehadiran Menteri Agama KH Prof. Nasaruddin Umar dalam sidang tersebut juga menjadi sorotan, menandakan seriusnya penyelesaian konflik ini. Dalam sidang itulah diputuskan untuk mengangkat penjabat Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa.

Kiai Zulfa bersedia menerima amanah tersebut. Dalam pidato penerimaannya, Kiai Zulfa merendah dengan menyebut dirinya sebagai "Al Fakir" yang mendapat tugas memimpin NU.

Sosok KH Zulfa Mustofa

Publik belum begitu mengenal nama Zulfa Mustofa, kecuali dalam enam bulan terakhir berkat potongan-potongan ceramah agamanya yang viral di media sosial. Beliau dikenal karena kemampuannya melantunkan Salawat Nabi dalam berbagai irama.

Misalnya, beliau pernah melantunkan salawat dengan nada lagu India Kuch Kuch Hota Hai, irama lagu Sunda Manuk Dadali, lagu Melayu Fatwa Pujangga, bahkan lagu Mandarin klasik Nán Ér Dāng Zì Qiáng (Wong Fei Hong). Kiai Zulfa memiliki suara yang cukup merdu.

Kiai Zulfa juga dikenal sering berceramah di forum-forum Muhammadiyah, menyerukan moderasi dan kebersamaan. "Kita harus mendukung kalau Muhammadiyah banyak membangun rumah sakit," ujarnya, "Orang NU bisa membantu dengan cara menjadi pasiennya," tambahnya dengan nada humor.

Dalam hal moderasi, Kiai Zulfa memiliki kemiripan dengan Ketua Umum PBNU sebelum Gus Yahya, Prof. Dr. KH Said Aqil Sirodj, dan sangat berjiwa Gus Dur.

Kelebihan Kiai Zulfa dibanding Gus Yahya terletak pada penguasaan ilmu agamanya yang mendalam, serta cara pendekatannya yang membumi. Humornya khas humor rakyat jelata, jauh dari sikap elitis.

Secara kekerabatan, Kiai Zulfa adalah keponakan dari KH Ma’ruf Amin, mantan Rais Aam dan mantan Wakil Presiden RI. Beliau juga kerabat dari ulama besar masa lalu, Kiai Nawawi Al Bantani, dan diambil menantu oleh seorang kiai penting di Tegal.

Pekerjaan berikutnya bagi Kiai Zulfa adalah mengurus pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM. Setelah mendapat pengesahan, beliau dapat berkantor di gedung PBNU sembilan lantai di Jalan Kramat Raya, Jakarta.

Namun, tantangan terberat menanti: memutuskan siapa mitra yang akan ditunjuk untuk menggarap tambang batu bara NU seluas 25.000 hektare di Bontang. Konflik baru bisa saja menanti di ujung persoalan ini.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB