Ekoteologi, Mengatasi Krisis Iklim Sebagai Panggilan Spiritual

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Rabu, 10 Desember 2025 | 18:49 WIB
Menelusuri Keindahan Bukit Tarabunga di Tepi Danau Toba sebagai Destinasi Alam dan Budaya yang Mempesona di Sumatera Utara. (tobaria.com)
Menelusuri Keindahan Bukit Tarabunga di Tepi Danau Toba sebagai Destinasi Alam dan Budaya yang Mempesona di Sumatera Utara. (tobaria.com)

Perubahan iklim telah melampaui batas masalah teknis dan ilmiah, kini ia merupakan cerminan dari krisis moral dan spiritual manusia.

Selama ini, solusi global didominasi oleh pendekatan sains dan teknologi, yang seringkali gagal menyentuh akar permasalahan: paradigma antroposentris yang memandang alam hanya sebagai sumber daya untuk dieksploitasi.

Di sinilah ekoteologi menawarkan perspektif yang sangat dibutuhkan. Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa alam adalah ciptaan yang memiliki nilai intrinsik, dan bahwa hubungan kita dengan bumi adalah relasi tanggung jawab moral, bukan sekadar utilitarian.

Pelestarian lingkungan bukan pilihan melainkan kewajiban spiritual dan etis. Ekoteologi memiliki kekuatan besar, terutama melalui komunitas keagamaan yang luas, untuk mendorong perubahan gaya hidup berkelanjutan, dari pengurangan energi hingga pengelolaan sampah.

Lebih jauh, ekoteologi dapat memberikan legitimasi moral bagi kebijakan publik yang pro lingkungan, menuntut pemerintah dan korporasi mengambil langkah nyata. Pemulihan bumi tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi pada transformasi batin kita.

Menyatukan iman dan kepedulian ekologis, ekoteologi adalah fondasi penting untuk membangun peradaban yang harmonis dan berkelanjutan bagi masa kini dan masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X