Ketika Pemimpin Ingin Cepat Meninggal Dunia: Alarm Etika di Tengah Krisis Kepemimpinan Daerah

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Sabtu, 2 Mei 2026 | 21:32 WIB
Ilustrasi Meninggal (fstop123)
Ilustrasi Meninggal (fstop123)

Pernyataan kontroversial ini, dengan demikian, seharusnya dibaca sebagai alarm. Bukan hanya bagi individu yang mengucapkannya, tetapi juga bagi sistem yang menopang kepemimpinan itu sendiri.

Apakah kita telah menyiapkan mekanisme dukungan psikologis bagi pejabat publik? Apakah ada standar komunikasi krisis yang cukup kuat di level pemerintah daerah? Atau justru kita membiarkan kelelahan itu menumpuk hingga bocor dalam bentuk narasi yang meresahkan?

Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya soal mengambil keputusan, tetapi juga tentang menjaga harapan tetap hidup di tengah situasi yang paling melelahkan sekalipun.

Dan ketika seorang pemimpin mulai berbicara tentang keinginan untuk “mengakhiri”, yang sebenarnya sedang diuji bukanlah fisiknya, melainkan ketahanan etik dalam memegang amanah publik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Diantar Sosiologi

Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:57 WIB

Refleksi atas Berakhirnya UHC di Kabupaten Cianjur

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:08 WIB

Berguru pada Pohon

Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:24 WIB

Memerdekakan Meja Makan, Memerdekakan Bangsa

Rabu, 22 Juli 2026 | 05:52 WIB

Sesudah Perayaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 07:13 WIB

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB
X