Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Menggapai Ketenangan dari Masjid (Bagian 37)

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Jumat, 1 Mei 2026 | 21:37 WIB
Ilustrasi Sujud
Ilustrasi Sujud

JOURNALNUSANTARA.COM - Dunia yang bergerak begitu cepat seringkali meninggalkan rasa lelah yang mendalam bagi setiap jiwa yang mengejarnya tanpa henti.

Di tengah hiruk-pikuk kesibukan bekerja dan tuntutan hidup yang tidak kunjung usai, manusia membutuhkan sebuah jeda untuk sekadar mengambil napas dan menata kembali arah langkahnya.

Masjid hadir bukan sekadar sebagai bangunan fisik untuk ritual ibadah, melainkan sebuah ruang sakral yang menawarkan keheningan bagi hati yang sedang bising oleh urusan duniawi.

Melangkah masuk ke dalam masjid memberikan sensasi spiritual yang berbeda, di mana setiap ornamen dan suasana dingin lantainya seolah menyapa jiwa yang gundah.

Di tempat ini, derajat manusia dilepaskan dari segala jabatan maupun status sosial, sehingga setiap individu dapat merasakan kedamaian yang setara di hadapan Sang Pencipta.

Ketenangan yang didapatkan dari masjid merupakan bentuk pembersihan energi negatif yang selama ini menumpuk akibat tekanan lingkungan dan ambisi yang melelahkan.

Momentum bersujud di atas hamparan sajadah menjadi puncak dari upaya manusia dalam melepaskan beban pundaknya yang terasa berat.

Dalam kerendahan hati saat dahi menyentuh bumi, ada pengakuan tulus bahwa manusia hanyalah makhluk kecil yang membutuhkan sandaran dari kekuatan yang jauh lebih besar.

Getaran spiritual ini secara perlahan meredam kecemasan akan masa depan dan rasa penyesalan atas masa lalu yang sering menghantui pikiran manusia modern.

Setelah keluar dari lingkungan masjid, individu diharapkan membawa pulang pancaran ketenangan tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Kedamaian yang telah dirajut di dalam rumah ibadah menjadi modal utama dalam menghadapi dinamika sosial, termasuk dalam berinteraksi dengan sesama manusia secara lebih bijaksana.

Masjid pada akhirnya menjadi stasiun pengisian energi spiritual yang memastikan setiap orang tetap memiliki kejernihan pikiran meskipun berada di tengah badai persoalan yang rumit.

Oleh: Tim Media DKM Al-Muhajirin, Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB

Sekolah Garuda dan Kasta Baru Pendidikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:35 WIB

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mengetuk Pintu Malam yang Terkunci Dosa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:16 WIB

Estetika sebagai Basis Etika dan Kejayaan Bangsa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:10 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Prabowo?

Senin, 8 Juni 2026 | 10:38 WIB

Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia

Minggu, 7 Juni 2026 | 07:56 WIB

Meruntuhkan Tembok Nepotisme

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:15 WIB

Merajut Keadilan, Mengikis Kolusi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Menghancurkan Benalu Korupsi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:02 WIB
X