Bagian terakhir dari doa ini adalah permohonan: "dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku)." Kekuasaan (sulṭānan naṣīran) di sini dimaknai bukan sekadar kekuasaan fisik atau jabatan, melainkan kekuasaan hujah dan alasan yang dapat diterima.
Perintah ini ditujukan agar ketika berdakwah, Nabi dapat menguasai argumen yang memuaskan orang-orang yang mendengarkannya, sehingga bertambah kuat iman mereka. Jika yang mendengar adalah orang kafir, hati mereka akan menjadi lunak dan mau masuk Islam.
Sebagai jawaban atas doa Nabi Muhammad saw., Allah menerangkan bahwa Dia akan memelihara Nabi dari segala macam tipu daya manusia dan akan memenangkannya terhadap orang-orang kafir. Hal ini sejalan dengan janji Allah dalam firman-Nya di Surah Al-Mā’idah Ayat 67:
وَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ
Artinya: "Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir."
Dengan demikian, Surah Al-Isrā’ Ayat 80 adalah doa universal yang harus selalu diamalkan oleh setiap Muslim yang menghadapi fase transisi, baik dalam pendidikan, karier, maupun perjuangan, memohon keberkahan dalam proses awal dan akhir, serta kekuatan argumentasi untuk membela kebenaran.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Semua telah Digarisakan (Bagian 1972)
Petani Turun ke Jalan
Audiensi Berulang Kali Ditunda, Perkim Cianjur Dituding Abaikan Aspirasi Warga
Lari Sehat untuk Harapan Baru, Alumni FKUI Gelar Acara Amal Bantu Cianjur
Mutiara Pagi: Ikhlas Kunci Sejati (Bagian 1973)
Kebaikan yang Kembali, Menolong Sesama untuk Mengundang Pertolongan Ilahi
Menguatkan Fondasi Bisnis dengan Spiritual, Kuliah Umum UIN Surabaya Hadirkan Kaprodi MD UIN Bandung
Bangsa Miring
Hari Tani: Petani untuk Indonesia, Bukan untuk Oligarki
Mutiara Pagi: Cahaya Itu Selalu Ada (Bagian 1974)