Teks yang akan diulas adalah firman Allah Swt. dalam Surah Al-Isrā’ Ayat 80:
وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا
Artinya: "Dan katakanlah (Muhammad), 'Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku).'"
Konteks Historis dan Perintah Ilahi
Menurut riwayat At-Tirmiżī dari Ibnu ‘Abbās, ayat ini turun saat Nabi Muhammad saw. berada di Mekah, di mana beliau kemudian diperintahkan Allah untuk berhijrah. Ayat ini menjadi sebuah doa pamungkas yang diperintahkan Allah kepada Nabi, mengisyaratkan bahwa setiap transisi besar dalam hidup, baik fisik maupun spiritual, harus diawali dengan permohonan keberkahan dan kebenaran.
Makna 'Pintu Masuk' dan 'Pintu Keluar' yang Benar
Allah Swt. memerintahkan Nabi Muhammad saw. agar mengucap-kan doa, yang intinya memohon "Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat yang Engkau kehendaki dan keluarkan (pula) aku ke tempat yang Engkau kehendaki, baik di dunia maupun di akhirat."
Secara spesifik, tafsir para ulama merincikan makna mudkhala ṣidqin (tempat masuk yang benar) dan mukhraja ṣidqin (tempat keluar yang benar) mencakup:
Hijrah dan Penaklukan: Contoh paling nyata adalah masuknya Rasulullah dan para sahabat ke kota Medinah sebagai orang-orang yang hijrah dari Mekah, serta masuknya beliau ke kota Mekah di waktu penaklukan kota itu.
Kehidupan Sehari-hari: Termasuk masuk masjid, rumah sendiri, atau rumah sahabat setelah meminta izin.
Akhirat: Meliputi masuk kubur setelah mati dan keluar dari kubur saat Hari Kebangkitan.
Konteks Spiritual: Keluar dari semua tempat atau keadaan yang tidak diridai Allah, seperti kota-kota yang menjadi tempat perbuatan maksiat.
Dalam konteks pendidikan dan pengembangan diri, doa ini mengajarkan kita untuk selalu memulai sesuatu (masuk) dengan niat dan cara yang benar, serta mengakhirinya (keluar) dengan hasil dan kehormatan yang benar, terlepas dari bidang pekerjaan atau studi yang ditekuni.
Permohonan 'Kekuasaan yang Menolong'
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Semua telah Digarisakan (Bagian 1972)
Petani Turun ke Jalan
Audiensi Berulang Kali Ditunda, Perkim Cianjur Dituding Abaikan Aspirasi Warga
Lari Sehat untuk Harapan Baru, Alumni FKUI Gelar Acara Amal Bantu Cianjur
Mutiara Pagi: Ikhlas Kunci Sejati (Bagian 1973)
Kebaikan yang Kembali, Menolong Sesama untuk Mengundang Pertolongan Ilahi
Menguatkan Fondasi Bisnis dengan Spiritual, Kuliah Umum UIN Surabaya Hadirkan Kaprodi MD UIN Bandung
Bangsa Miring
Hari Tani: Petani untuk Indonesia, Bukan untuk Oligarki
Mutiara Pagi: Cahaya Itu Selalu Ada (Bagian 1974)