Ia mengajak kita berdialog dengan empati, bukan saling menutup telinga. Maka marilah kita rawat perbedaan sebagaimana kita merawat taman: disirami dengan kasih, dipangkas dari prasangka, dan dijaga dari gulma kebencian. Karena dari situlah bunga-bunga persaudaraan tumbuh dan semerbaknya menyentuh langit.
Dalam arus deras peradaban yang kian deras, kita membutuhkan jangkar: nilai-nilai luhur yang membuat kita tak hanyut dan tak saling menenggelamkan.
Artikel Terkait
Membangun Personal Branding yang Kuat di Era Digital
Gerakan Shalat, Rahasia Kesehatan dari Langit?
Persiapan Ziarah ke Wali Songo: Meraih Berkah dan Hikmah Perjalanan Spiritual
Alun-Alun Masjid Agung Cianjur, Ruang Publik yang Menyatu dengan Kehidupan Warga
Mutiara Pagi: Bersegeralah (Bagian 1809)
Siloka Program KDM 'Nyaah Ka Indung'
Istiqamah di Bulan Syawwal
Kereta Cepat Jakarta-Bandung: Simbol Kemajuan Transportasi Indonesia
Pesona Pramugari Cantik di Balik Seragam yang Elegan
Mutiara Pagi: Kita Tak Pernah Sendiri (Bagian 1810)