Menemukan Jalan Pulang Menuju Persaudaraan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 14 April 2025 | 11:00 WIB
Ilustrasi jalan tol. (pu.go.id)
Ilustrasi jalan tol. (pu.go.id)

Oleh: Munawir Kamaluddin

Di tengah gegap gempita kehidupan modern, ketika suara-suara nyaring saling bersahutan, ketika pendapat bertarung di atas layar-layar dingin dan jemari-jemari saling menggugurkan kata, kita mulai merindukan keheningan yang damai.

Kita rindu pada peluk yang tak menghakimi, pada tatap yang tak mencurigai, pada ruang yang memberi kita hak untuk berbeda tanpa harus merasa terasing.

Hari-hari ini, perbedaan yang dulu adalah anugerah kini berubah rupa menjadi jurang yang menakutkan. Saudara jadi jauh karena beda warna pilihan. Sahabat jadi asing karena beda pendapat dalam perkara furu’. Keluarga jadi kaku karena percakapan-percakapan kecil berubah jadi perdebatan panjang yang tak perlu.

Kita pun mulai bertanya dalam diam: di manakah letak indahnya ukhuwah yang dulu begitu kita banggakan?

Padahal Islam, sejak embun pertama wahyu turun di Gua Hira, telah mengajarkan cinta dalam keberagaman, kasih dalam perbedaan, dan damai dalam setiap simpang jalan kehidupan.

Islam tak pernah meminta kita menjadi seragam, tapi menyerukan agar kita saling menyayangi di tengah ketidaksamaan.

Lihatlah pelangi yang mempesona justru karena warnanya tak serupa. Lihatlah bait-bait puisi yang hidup karena tak semua katanya berulang.

Maka marilah kita sejenak menarik napas panjang, melepas segala prasangka, dan membuka kembali lembaran hati yang mungkin mulai berdebu.

Mari kita berjalan bersama dalam tulisan ini, menyelami hikmah dari kedalaman kalbu dan beningnya nurani, tentang bagaimana menyikapi perbedaan dengan cinta, dengan adab, dengan bijak.

Sebab di balik setiap perbedaan, tersimpan peluang untuk saling mengenal, saling belajar, dan saling memanusiakan.

Tulisan ini bukan sekadar ajakan, tapi pelukan bagi siapa saja yang lelah bertikai, yang letih menjadi hakim atas sesama, dan yang rindu damai dalam pelukan ukhuwah.

Ini adalah bisikan lembut dari iman yang mengajak kita kembali pada fitrah: bahwa perbedaan bukan musuh, tapi taman yang akan mekar indah jika kita rawat dengan kasih.

Mari, izinkan hati kita menyimak dengan rasa, dan biarkan akal kita mencerna dengan damai.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mengetuk Pintu Malam yang Terkunci Dosa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:16 WIB

Estetika sebagai Basis Etika dan Kejayaan Bangsa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:10 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Prabowo?

Senin, 8 Juni 2026 | 10:38 WIB

Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia

Minggu, 7 Juni 2026 | 07:56 WIB

Meruntuhkan Tembok Nepotisme

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:15 WIB

Merajut Keadilan, Mengikis Kolusi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Menghancurkan Benalu Korupsi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:02 WIB

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB
X