Namun, bagaimana jika kita sudah tidak merasa bersalah lagi? Bagaimana jika dosa menjadi kebiasaan, bahkan dianggap biasa saja? Itu adalah tanda bahwa hati kita telah kehilangan kepekaannya.
2. Ketika ibadah kehilangan ruhnya.
Kita shalat, tetapi tidak merasakan ketenangan. Kita membaca Al-Qur’an, tetapi tidak ada getaran dalam hati. Kita berdoa, tetapi doa terasa kosong.
Allah SWT. berfirman:
وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًۭا
"Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ di hadapan manusia, dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali." (QS. An-Nisa: 142)
Apakah ibadah kita hanya sebatas gerakan tanpa makna?
3. Ketika dunia lebih menarik daripada akhirat.
Kita bisa menghabiskan berjam-jam menatap layar ponsel, tetapi sulit meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an walau hanya lima menit. Kita bisa bersemangat mencari rezeki, tetapi malas untuk bersedekah. Kita bisa berdebat panjang tentang dunia, tetapi enggan untuk merenungi akhirat.
Rasulullah bersabda:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ
"Barang siapa yang dunia menjadi obsesinya, maka Allah akan membuat urusannya tercerai-berai, menjadikan kefakiran di depan matanya, dan ia tidak akan mendapatkan dunia kecuali yang telah ditetapkan untuknya." (HR. At-Tirmidzi)
Apakah kita termasuk orang yang lebih sibuk mengejar dunia dan mengabaikan akhirat?
Masih Adakah Harapan?
Hati yang mati bukan berarti tak bisa hidup kembali. Allah adalah Maha Pengampun, Maha Lembut, dan Maha Membolak-balikkan hati. Selama kita masih diberi kesempatan, masih ada jalan untuk menghidupkan kembali hati yang telah membeku.
Allah SWT. berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱسْتَجِيبُوا۟ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian." (QS. Al-Anfal: 24)
Jika hati kita telah mati, maka mari kita hidupkan kembali. Jika iman kita telah redup, maka mari kita nyalakan cahayanya.
Bagaimana caranya? Bagaimana kita bisa menyelamatkan hati kita sebelum benar-benar tenggelam dalam kegelapan?
Mari kita lanjutkan perjalanan ini, menelusuri tanda-tanda hati yang mati dan menemukan jalan untuk menghidupkannya kembali. Karena sesungguhnya, hati yang hidup adalah sumber kebahagiaan, dan hati yang mati adalah awal dari kehancuran.
*Tanda-Tanda Hati yang Mati dan Cara Menghidupkannya Kembali*
Hati adalah pusat kehidupan manusia. Dari hatilah lahir kebaikan atau keburukan. Rasulullah SAW.bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, ada saatnya hati menjadi lemah, bahkan mati. Hati yang mati bukan sekadar tidak merasakan spiritualitas, tetapi juga kehilangan cahaya hidayah dan kasih sayang Allah. Al-Qur'an menggambarkan kondisi hati yang mati:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِىَ كَٱلْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةًۭ ۚ
Artikel Terkait
Makam Sunan Gunung Jati dan Fatahillah
Isra’ Mi’raj dan Realita Umat - 01
Isra’ Mi’raj dan Realita Ummat - 02
Isra’ Mi’raj dan Realita Ummat - 03
Gandeng Kebersamaan, Ketua RT Terpilih Dahulukan Kepentingan Masyarakat
Mutiara Pagi: Tiga Puluh Januari (Bagian 1757)
Isra’ Mi’raj dan Realita Umat - 04
Maling Lahan Negara Berkedok HGB dan HGU Merebak, Landreform Tinggal Slogan (Bag 1)
Maling Lahan Negara Berkedok HGB dan HGU Merebak, Landreform Tinggal Slogan (Bag 2)
Mutiara Pagi: Benang Tipis (Bagian 1758)