Ketika Hati Mulai Mati, Ke Mana Kita Harus Mencari Cahaya?

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 1 Februari 2025 | 06:00 WIB
Ilustrasi Hati-hati, 5 Jenis Makanan Ini Perlu Dihindari Penderita Asam Lambung, Ada Buah-buahan
Ilustrasi Hati-hati, 5 Jenis Makanan Ini Perlu Dihindari Penderita Asam Lambung, Ada Buah-buahan

Oleh: Munawir Kamaluddin

Pernahkah kita merasa kosong dalam menjalani hidup? Pernahkah kita bangun di pagi hari tanpa gairah, menjalani rutinitas tanpa makna, lalu tidur kembali dengan perasaan yang sama? Pernahkah kita merasakan ibadah hanya sebagai kewajiban tanpa ruh, dzikir tanpa penghayatan, atau doa yang sekadar lantunan kata tanpa getaran dalam dada?

Mengapa sebagian orang menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah, sementara sebagian yang lain tetap diam seolah tak terjadi apa-apa? Mengapa ada hati yang bergetar ketika nama Allah disebut, tetapi ada juga yang tetap keras, tak peduli seberapa banyak nasihat yang ia dengar? Apakah hati kita masih hidup, ataukah ia perlahan sedang menuju kematiannya?

*Hati: Cahaya atau Kegelapan?*

Di dalam diri manusia terdapat sesuatu yang menjadi pusat kendali atas segalanya. Jika ia baik, maka seluruh anggota tubuh akan ikut baik. Jika ia rusak, maka semua perilaku akan ikut rusak. Rasulullah SAW. bersabda:
"Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati."

Hati adalah penentu segalanya. Ia bagaikan cermin yang memantulkan kondisi batin seseorang. Jika hati bersih, maka kehidupan akan terasa terang. Jika hati kotor, maka dunia akan tampak kelam. Jika hati mati, maka segala kebaikan akan kehilangan maknanya.

Lalu, bagaimana kita mengetahui apakah hati kita masih hidup atau sudah mati?

Allah SWT. memberikan isyarat tentang hati yang mulai membeku dan kehilangan cahayanya:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِىَ كَٱلْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ ٱلْمَآءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

"Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, di antara batu-batu itu ada yang mengalir sungai-sungai darinya. Dan ada pula yang terbelah, lalu keluar mata air darinya. Dan ada yang jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kalian kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 74)

Bayangkan, hati manusia bisa lebih keras daripada batu. Batu bisa retak dan mengeluarkan air, tetapi hati yang mati tetap membatu meskipun mendengar firman Allah, meskipun disapa oleh kematian di sekelilingnya, meskipun melihat kebesaran Allah yang terpampang di langit dan bumi.

Apakah hati kita sudah sampai pada titik itu?

*Hati yang Mati: Ketika Cahaya Padam*

Hati yang mati bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Ia seperti api kecil yang perlahan redup, seperti tubuh yang kehilangan nyawa sedikit demi sedikit. Ada banyak tanda yang bisa kita rasakan, jika kita mau jujur pada diri sendiri:

1. Ketika dosa terasa ringan dan tidak lagi membuat kita merasa bersalah.
Rasulullah SAW.bersabda:
الْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ النَّاسُ عَلَيْهِ
"Dosa adalah sesuatu yang membuat hatimu gelisah dan engkau tidak suka jika orang lain mengetahuinya." (HR. Muslim, no. 2553)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X