*Seruan Untuk Pandai Bersyukur*
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“…Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?. Didalam Surah Ar-Rahman menjadi seruan yang sangat kuat bagi manusia dan jin untuk merenungi nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah.
Ayat ini diulang sebanyak 31 kali dalam surah tersebut untuk menekankan pentingnya kesadaran atas nikmat Allah dan sebagai pengingat agar kita tidak menjadi hamba yang kufur nikmat.
*Makna Ayat dalam Konteks Syukur*
1. Kesadaran atas Nikmat Allah
Dalam Al-Qur'an, Allah mengingatkan manusia untuk mengenali dan mengakui nikmat-Nya. Nikmat tersebut meliputi segala hal, mulai dari penciptaan manusia, langit, bumi, rezeki, hingga kemampuan beriman kepada Allah. Tanpa kesadaran ini, manusia cenderung mengabaikan atau bahkan mendustakan nikmat yang telah diterima.
2. Kewajiban Bersyukur
Bersyukur merupakan salah satu kewajiban hamba kepada Allah. Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah berfirman:
"لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ"
(Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih).
Ayat ini menunjukkan bahwa syukur tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas nikmat, tetapi juga menjadi jalan untuk mendapatkan tambahan nikmat dari Allah.
3. Perbandingan Antara Bersyukur dan Mendustakan
Kata تُكَذِّبَانِ (mendustakan) menunjukkan peringatan kepada mereka yang tidak mengakui nikmat Allah. Pendustaan nikmat dapat berupa kelalaian dalam memanfaatkannya untuk kebaikan, sikap sombong, atau bahkan menggunakan nikmat tersebut untuk maksiat. Sebaliknya, bersyukur adalah pengakuan atas nikmat melalui hati, lisan, dan perbuatan, seperti yang dinyatakan oleh para ulama:
*Syukur dengan hati: Mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah.*
Syukur dengan lisan: Memuji Allah dengan dzikir dan doa, seperti membaca "Alhamdulillah."
Syukur dengan perbuatan: Menggunakan nikmat untuk hal-hal yang diridhai Allah.
*Kaitannya dengan Kehidupan Modern*
1. Nikmat Dunia yang Melimpah
Dalam kehidupan modern, kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, dan berbagai kemudahan hidup merupakan bagian dari nikmat Allah. Namun, sering kali manusia lupa bersyukur dan justru terjebak dalam keserakahan, individualisme, dan materialisme.
2. Meningkatkan Kualitas Ibadah
Rasa syukur akan mendorong manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya, nikmat kesehatan harus mendorong seseorang untuk shalat dengan sempurna, sementara nikmat harta harus digunakan untuk bersedekah.
3. Menjaga Lingkungan
Alam dan sumber daya yang ada adalah bagian dari nikmat Allah. Manusia yang bersyukur akan menjaga lingkungan, mengelola sumber daya dengan bijak, dan tidak merusaknya demi keuntungan pribadi.
*Meneladani Nabi dalam Bersyukur*
Artikel Terkait
Jangan Cengeng, Optimis Raih Swasembada Pangan
Paradoks Perberasan
Menyibak Hakikat Kerugian dalam Lintasan Waktu
Igornas Cianjur Sosialisasikan Senam Waringkas dan Anak Indonesia Hebat
Mutiara Pagi: Di Sini Tempat Lahir Kita (Bagian 1742)
Mengurai dan Menakar Luka di Tengah Konflik yang Tak Sehat Oleh: Munawir
Hadiah Awal Tahun: Jennifer, Siswi SMA Menerima Islam
Upaya Wujudkan Indonesia Emas, GP Ansor Luncurkan Asta Cita Center
Kisah Pegawai VOC yang Dibuang ke Pulau Terpencil di Samudera Atlantik
Mutiara Pagi: Asal Bapak Senang ( Bagian 1742)