Oleh: Munawir K
Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh misteri, sebuah narasi yang tak pernah selesai ditulis hingga tarikan napas terakhir kita.
Di dalamnya, terdapat pergulatan batin yang tiada henti,antara menerima dan menolak, antara berharap dan kecewa, antara mengeluh dan bersyukur.
Namun, di mana sebenarnya posisi kita dalam perjalanan ini? Apakah kita telah benar-benar memahami arti dari setiap hembusan angin yang menyentuh wajah, setiap tetes hujan yang jatuh ke bumi, atau bahkan setiap kejadian yang, kadang, terasa tak adil dalam pandangan kita?
Pernahkah kita bertanya, mengapa manusia terkadang cenderung melihat dunia dari kacamata kekurangan? Mengapa kita terkadang lebih sering memusatkan perhatian pada apa yang belum dimiliki, alih-alih merenungi betapa banyaknya nikmat yang telah dianugerahkan?.
Tidakkah kita sadar bahwa kita sedang berdiri di atas tanah yang dipenuhi berkah, menghirup udara yang tak pernah ditagih bayarannya, dan menikmati hidup yang mungkin menjadi impian bagi mereka yang sedang berjuang di ujung batas kemampuan?
Pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenungi nikmat yang kita miliki? Pernahkah kita menyadari betapa besar karunia yang telah Allah limpahkan kepada kita, meskipun sering kali terlewat oleh mata hati yang tertutup oleh keluh kesah?
Tidakkah kita merasa bahwa hidup ini, dengan segala liku dan ujiannya, adalah kesempatan emas untuk mensyukuri setiap detik yang berlalu?
Bayangkan sejenak mereka yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Tubuh yang dahulu kuat kini rapuh, napas yang dulu stabil kini berat. Mereka memandang dunia dari balik jendela kamar yang sunyi, merindukan kebebasan untuk berjalan di bawah sinar matahari.
Pernahkah kita berpikir, betapa beruntungnya kita yang masih bisa bergerak bebas, berjalan dengan langkah ringan, tanpa harus bergantung pada alat bantu atau tatapan iba?.Tidakkah nikmat kesehatan yang sering kita abaikan itu adalah anugerah yang tak ternilai?
Lalu lihatlah mereka yang berada di rumah tahanan. Di balik jeruji, mereka merasakan penyesalan mendalam, memikirkan kebebasan yang telah hilang.
Mereka berharap, seandainya waktu dapat diulang, mereka akan menjalani hidup dengan lebih baik. Pernahkah kita merenung, betapa bebasnya kita menjalani hari-hari tanpa rasa takut dan terkurung?. Apakah kebebasan itu telah kita syukuri, ataukah justru kita sia-siakan dengan keluhan tiada henti?
Pernahkah kita mengingat mereka yang telah pergi meninggalkan dunia ini? Mereka yang mungkin masih ingin merasakan kehangatan pagi, melihat orang-orang tercinta, atau bahkan sekadar menikmati makanan sederhana.
Namun, hidup mereka telah berakhir, dan tak ada satu detik pun yang bisa mereka kembalikan. Sedangkan kita, yang masih diberi kesempatan untuk hidup, apakah kita telah benar-benar menghargai waktu yang tersisa?.Ataukah kita justru menyia-nyiakannya dengan keluhan dan rasa putus asa?
Artikel Terkait
Jangan Cengeng, Optimis Raih Swasembada Pangan
Paradoks Perberasan
Menyibak Hakikat Kerugian dalam Lintasan Waktu
Igornas Cianjur Sosialisasikan Senam Waringkas dan Anak Indonesia Hebat
Mutiara Pagi: Di Sini Tempat Lahir Kita (Bagian 1742)
Mengurai dan Menakar Luka di Tengah Konflik yang Tak Sehat Oleh: Munawir
Hadiah Awal Tahun: Jennifer, Siswi SMA Menerima Islam
Upaya Wujudkan Indonesia Emas, GP Ansor Luncurkan Asta Cita Center
Kisah Pegawai VOC yang Dibuang ke Pulau Terpencil di Samudera Atlantik
Mutiara Pagi: Asal Bapak Senang ( Bagian 1742)