Mengurai dan Menakar Luka di Tengah Konflik yang Tak Sehat Oleh: Munawir

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 15 Januari 2025 | 09:35 WIB
Ilustrasi terluka (Vecteezy)
Ilustrasi terluka (Vecteezy)

Oleh: Munawir Kamaluddin

Di balik gemerlap peradaban manusia, ada gema sunyi yang menyayat hati. Ia datang tanpa diundang, mengusik damai yang begitu diidamkan.

Perseteruanpp, nama yang sering kali kita hindari, namun tak jarang kita pelihara. Ia menjelma seperti awan hitam di atas hamparan biru langit kehidupan, memerangkap manusia dalam lingkaran ego yang memabukkan.

Seperti duri dalam daging, perseteruan perlahan melukai jiwa, menggoreskan luka yang tak selalu terlihat, tetapi selalu terasa.

Tidakkah hati bertanya, apa yang dicari dalam pertikaian? Apa yang diraih dari perpecahan? Ketika amarah mendominasi dan kebencian menjadi tuan, apakah damai yang hilang mampu dibayar dengan kemenangan semu? Kita adalah makhluk sosial yang dirancang untuk saling melengkapi, tetapi mengapa kerap kali memilih saling melukai? .
Allah SWT. berfirman:
"وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا"
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai."
(QS. Ali Imran: 103)

Namun, betapa sering tali itu dilepaskan demi gengsi, demi harga diri yang fana. Kita lupa bahwa dalam setiap perseteruan, ada hati yang remuk, ada ukhuwah yang retak, dan ada peradaban yang surut. Bahkan Rasulullah SAW. manusia agung yang diutus untuk menyatukan, menangis ketika menyaksikan umatnya terpecah belah. Beliau bersabda:
"إِنَّ أَشَدَّ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي هِيَ الْفِتَنُ"
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah fitnah."
(HR. Tirmidzi)

*Perseteruan: Ujian Jiwa dan Cermin Kehidupan*

Perseteruan adalah ujian, bukan sekadar pada hubungan antar manusia, tetapi pada hati setiap insan. Ia menguji kemampuan kita untuk meredam ego, menahan amarah, dan memilih cinta di atas kebencian.

Namun, sering kali manusia gagal. Perseteruan kecil di dalam keluarga dapat berkembang menjadi jurang besar yang tak terjembatani. Konflik di antara kelompok kecil dapat membesar menjadi perang yang melibatkan bangsa-bangsa.

Dampaknya merambat, melampaui sekadar hubungan pribadi. Perseteruan menciptakan masyarakat yang terpecah, negara yang rapuh, bahkan peradaban yang hancur.

Dunia pernah menjadi saksi bagaimana perang atas nama kebanggaan menumpahkan darah tak berdosa, memusnahkan harapan generasi, dan meninggalkan kenangan pahit yang tak mudah dilupakan.
"وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ"
"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas."
(QS. Ali Imran: 105)

Namun, Allah tidak hanya memperingatkan. Dia juga memberikan jalan keluar. Islam hadir bukan untuk memperburuk luka, melainkan menyembuhkan. Islam tidak sekadar mengajarkan bagaimana menghindari konflik, tetapi juga bagaimana mengelola perbedaan dengan hikmah, bagaimana menjadikan perseteruan sebagai pintu menuju kedamaian.

*Perseteruan dengan Pendekatan Filosofis dan Solutif*

Perseteruan adalah fenomena yang tak terhindarkan dalam interaksi manusia, baik di tingkat individu maupun sosial. Perbedaan karakter, tujuan, dan pandangan hidup sering kali menjadi akar konflik. Namun, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin telah menyediakan solusi mendalam yang tidak hanya bersifat individual tetapi juga komunal, untuk menyelesaikan dan mencegah perseteruan. Allah SWT. Telah berfirman agar kita berpegang teguh semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai satu sama lain seperti pada QS. Ali Imran: 103.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X