Mengurai dan Menakar Luka di Tengah Konflik yang Tak Sehat Oleh: Munawir

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 15 Januari 2025 | 09:35 WIB
Ilustrasi terluka (Vecteezy)
Ilustrasi terluka (Vecteezy)

*Optimis Dalam menyelesaikan Perseteruan*

Hal yang harus diyakini dan terus diperjuangkan bahwa setiap luka menyimpan peluang untuk sembuh, setiap konflik menyisakan ruang untuk kedamaian. Sebagaimana malam yang gelap diakhiri oleh fajar yang menyingsing, demikian pula perseteruan dapat diakhiri dengan rekonsiliasi dan kasih sayang.

Kuncinya terletak pada keberanian untuk memaafkan, keikhlasan untuk melupakan, dan komitmen untuk memperbaiki.

Allah SWT. telah menyediakan panduan yang jelas dalam menyikapi perbedaan dan konflik. Firman-Nya dalam Al-Qur'an menjadi pelita bagi umat manusia untuk meniti jalan kebenaran:
"وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ" "Tidaklah sama antara kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan seakan-akan telah menjadi teman yang setia."
(QS. Fussilat: 34)

Ayat ini mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan musuh, melainkan ketika kita mampu mengubah musuh menjadi sahabat. Rasulullah SAW., sebagai teladan sempurna, tidak hanya mengajarkan hal ini, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan beliau.

Ketika Rasulullah SAW. membuka kota Makkah, beliau menunjukkan sikap memaafkan yang luar biasa. Tidak ada dendam, tidak ada balas dendam. Kata-kata beliau yang abadi menjadi pengingat untuk umat manusia:
"Pergilah, kalian semua bebas."
(HR. Al-Baihaqi)

Maka, langkah kita untuk merajut harmoni dimulai dari niat yang tulus untuk membangun. Sebagaimana kita diberi kesempatan untuk hidup berdampingan, sudah sepatutnya kita mengisi kehidupan ini dengan nilai-nilai luhur yang mendamaikan.

Perseteruan hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang kehidupan, sementara kedamaian adalah tujuan utama yang harus kita kejar.

Semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah SWT. untuk menjadi agen perdamaian, bukan pemicu perselisihan. Semoga kita dimampukan untuk menyulam kembali kain persaudaraan yang robek, untuk membangun jembatan di atas jurang perbedaan, dan untuk menghadirkan cahaya di tengah kegelapan.

Maka, mari kita akhiri tulisan ini dengan doa penuh harap kepada Allah Rabbul Jalil agar perseteruan dapat kita hindari dengan spirit cinta yang telah dianugrahkan Allah SWT. Kepada kita:

"اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُحِبِّينَ وَاجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلسَّلَامِ وَمَغْلَقًا لِلْفِتَنِ"
"Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mencintai, jadikanlah kami kunci bagi perdamaian dan penutup bagi fitnah."

Semoga kita mampu menjadi insan yang merajut asa di tengah perbedaan, membangun jembatan di atas jurang perseteruan, dan menanam benih cinta di ladang kehidupan yang kering. Dengan demikian, semesta akan tersenyum menyaksikan manusia yang kembali kepada fitrahnya: saling mencintai dan saling melengkapi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X