Ayat ini menjadi landasan utama bahwa kebersamaan dan ukhuwah adalah prinsip dalam Islam, sementara perpecahan adalah sesuatu yang dilarang.
Untuk itu, diperlukan pendekatan holistik dan solutif dalam memahami perseteruan, baik dampaknya terhadap individu maupun masyarakat.
Dalam bahasa Arab, perseteruan sering dikaitkan dengan kata khilaf (perbedaan) atau fitnah (ujian atau konflik). Dalam pengertian luas, perseteruan tidak sekadar ketidaksepakatan, tetapi suatu kondisi di mana terdapat benturan kehendak yang berujung pada keretakan hubungan.
*Perseteruan Sebagai Ujian Hidup*
Perseteruan dalam perspektif Islam bukan sekadar fenomena sosial, tetapi juga ujian yang menguji keimanan, kesabaran, dan kebijaksanaan manusia. Allah SWT. berfirman:
“وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا"
"Dan Kami jadikan sebagian kamu ujian bagi sebagian yang lain, maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat."
(QS. Al-Furqan: 20)
Ayat ini menunjukkan bahwa konflik dan perseteruan adalah bagian dari skenario Ilahi untuk menguji kesabaran manusia. Di sinilah relevansi moderasi beragama menjadi penting untuk meredam dampak negatif perseteruan.
*Dampak Perseteruan*
1. *Dampak Individu*
a. Gangguan Psikologis
Perseteruan dapat menimbulkan rasa dendam, kebencian, dan stress yang berlarut-larut. Nabi Muhammad SAW. bersabda:
"إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ"
"Hati-hatilah kalian dari sifat hasad, karena hasad itu memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar."
(HR. Abu Dawud)
b. Hilangnya Fokus Ibadah
Ketika hati seseorang dipenuhi perseteruan, hubungan dengan Allah menjadi terganggu. Ini karena hati yang dipenuhi kebencian tidak mampu mencapai kekhusyukan dalam ibadah.
2. *Dampak Sosial*
a. Perpecahan Umat
Perseteruan yang tidak dikelola dengan baik dapat menciptakan jurang perpecahan di tengah umat. Allah SWT. memperingatkan:
"وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ"
"Dan janganlah kamu saling berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu."
(QS. Al-Anfal: 46)
b. Kekacauan dan Kerusakan
Perseteruan yang tidak terkendali dapat menimbulkan fitnah, pertumpahan darah, dan kehancuran masyarakat. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW. bersabda:
"لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ"
"Janganlah kalian kembali menjadi kafir setelah kepergianku, yaitu saling memenggal leher satu sama lain."
(HR. Bukhari dan Muslim)
*Mengurai Perseteruan dengan Moderasi Beragama*
Di tengah bara api perseteruan, Islam menawarkan air penyejuk: moderasi beragama. Prinsip tawashut (sikap tengah), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan ta'awun (kerja sama) menjadi pilar untuk membangun harmoni di tengah perbedaan. Rasulullah SAW. menunjukkan bagaimana prinsip ini diterapkan dalam kehidupan nyata.
Ketika penduduk Thaif menolak dakwahnya dengan caci maki dan lemparan batu, beliau tidak membalas dengan kebencian. Sebaliknya, beliau berdoa:
"اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ"
"Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena mereka tidak mengetahui."
(HR. Al-Bukhari)
Artikel Terkait
Inilah yang membuat Majapahit Tenggelam
Kebakaran Los Angeles, Azab dan Hoax
Menemukan Keselamatan di Tengah Gemuruh Dunia
Jangan Cengeng, Optimis Raih Swasembada Pangan
Mutiara Pagi: Di Atas Kota Perak (Bagian 1741)
Pertama Kali di Cianjur, Terasia Episode 2
Paradoks Perberasan
Menyibak Hakikat Kerugian dalam Lintasan Waktu
Igornas Cianjur Sosialisasikan Senam Waringkas dan Anak Indonesia Hebat
Mutiara Pagi: Di Sini Tempat Lahir Kita (Bagian 1742)