Bayangkan pula mereka yang tak memiliki apa-apa. Orang-orang yang tinggal di bawah jembatan, yang tidur di emperan toko tanpa alas yang layak. Sementara kita, yang memiliki tempat berteduh dan makanan di atas meja, masih saja merasa kurang. Tidakkah hati kita tersentuh melihat mereka yang hanya berharap pada kemurahan hati orang lain?
Pernahkah kita melihat mereka yang hidup dengan keterbatasan? Yang tak bisa mendengar suara indah, tak bisa melihat warna dunia, atau tak bisa merasakan indahnya bergerak bebas. Tidakkah itu membuat kita menyadari betapa besar nikmat yang kita miliki, meskipun sering kita anggap biasa?
Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri:
Jika kita yang terbaring lemah di rumah sakit, masihkah kita merasa nikmat sehat ini kecil artinya?
Jika kita yang kehilangan kebebasan, apakah kita akan tetap mengeluh atas kebebasan yang dulu kita miliki tanpa syukur?
Jika kita yang tak memiliki apa-apa, tidakkah kita akan merindukan nikmat yang kini kita miliki?
Jika kita yang telah meninggal, apakah kita akan merasa cukup dengan amal dan rasa syukur yang telah kita persembahkan?
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ
"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl: 18)
Betapa banyak nikmat yang Allah berikan, hingga tak terhitung jumlahnya. Namun, sering kali manusia lebih memilih untuk memusatkan perhatian pada kekurangan, alih-alih mensyukuri keberlimpahan. Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا
"Barang siapa di pagi hari merasa aman dalam lingkungannya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya." (HR. Tirmidzi)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa nikmat terbesar dalam hidup bukanlah kekayaan melimpah, melainkan rasa aman, kesehatan, dan kecukupan rezeki.
Lalu, mengapa kita masih merasa kurang? Apakah ini karena hati kita jauh dari rasa syukur?
Syukur adalah kunci kedamaian batin. Ia mengajarkan kita untuk menerima takdir dengan husnudzan, memandang segala sesuatu dari sisi positif, dan menjadikan setiap nikmat sebagai sarana untuk mendekat kepada Allah.
Syukur juga mendorong kita untuk berbagi, menyebarkan manfaat kepada sesama, dan menghindari sifat sombong yang dapat merusak hati.
Maka, mari kita renungkan:
Apakah kita telah memanfaatkan nikmat Allah untuk berbuat kebaikan, ataukah kita hanya sibuk memuaskan diri sendiri?
Artikel Terkait
Jangan Cengeng, Optimis Raih Swasembada Pangan
Paradoks Perberasan
Menyibak Hakikat Kerugian dalam Lintasan Waktu
Igornas Cianjur Sosialisasikan Senam Waringkas dan Anak Indonesia Hebat
Mutiara Pagi: Di Sini Tempat Lahir Kita (Bagian 1742)
Mengurai dan Menakar Luka di Tengah Konflik yang Tak Sehat Oleh: Munawir
Hadiah Awal Tahun: Jennifer, Siswi SMA Menerima Islam
Upaya Wujudkan Indonesia Emas, GP Ansor Luncurkan Asta Cita Center
Kisah Pegawai VOC yang Dibuang ke Pulau Terpencil di Samudera Atlantik
Mutiara Pagi: Asal Bapak Senang ( Bagian 1742)