Menakar Soliditas Parpol Koalisi dan Potensi Lahirnya Poros Ketiga di Pilkada Cianjur

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Senin, 1 Juli 2024 | 11:26 WIB
Ridwan Mubarak: Penulis adalah Direktur Cianjur Institute, Pengurus LTNU dan Komnasdik Jawa Barat, Dosen FDK UIN SGD Bandung, dan kini bergiat juga sebagai Budak Angon di Pesantren Kehidupan Kyai Naga Sari.
Ridwan Mubarak: Penulis adalah Direktur Cianjur Institute, Pengurus LTNU dan Komnasdik Jawa Barat, Dosen FDK UIN SGD Bandung, dan kini bergiat juga sebagai Budak Angon di Pesantren Kehidupan Kyai Naga Sari.

Lantas, di internal Partai Golkar Cianjur sendiri terdapat kegamangan (kalaupun tidak disebutkan sebagai konflik internal Tb. Mulyana Vs Deden Nasihin). Deden Nasihin (Kang Denas)berdasarkan hasil survei beberapa lembaga, masih menduduki posisi kedua setelah Herman Suherman. Denas berpotensi menjadi kompetitor kuat Petahana di Pilkada ini jika dibandingkan dengan Tb. Mulayana, dengan catatan mesin Partai Golkar Cianjur solid dan kompak mendukung. Karena, untuk melaju di Pilkada tidak hanya cukup berbekal rekomendasi DPP dan DPW saja, lebih dari itu kondusifitas dan juga loyalitas mesin partai lokal menjadi modal besar yang sangat menentukan menang-kalah di Pilkada nanti.

Sepertinya, hemat penulis harus ada komitmen saling menguntungkan antara Tb. Mulyana dan Denas agar Golkar tidak dipecundangi dan hanya menjadi pelengkap kesempurnaan lawan-lawan politiknya. Saatnya DPD Golkar Cianjur realistis dengan keputusan politiknya, agar tidak menjadi penyesalan dikemudian hari, karena elektabilitas, popularitas dan akseptabilitas kini tengah menaungi Denas sebagai kader Golkar, bukan Tb. Mulayana. Namun sebagai Ketua DPD Golkar Cianjur, Tb. Mulyana menjadi kendali dan pemilik remote politik yang juga akan berdampak langsung untuk memenangkan Denas dengan Golkarnya.

Ketersediaan cost politikpun menjadi sangat penting, karena karakteristik politik masyarakat Cianjur saat ini masih sangat Pragmatis-Transaksional. Hal ini berkelindan dengan kualitas pendidikan politik masyarakat Cianjur yang masih rendah, menjadikan Pilkada sebagai ajang jual beli suara dan “ruang lelang kepentingan politik”. Ketersediaan dana politik masing-masing kandidat, pastinya akan berbanding lurus dengan potensi kemenangan, semakin minim dana politik semakin kecil peluang untuk menang. Prinsip Kahartos, Karaos, Nyoblos (biasanya fresh money, dalam bentuk uang dan sembako) menjadi ciri masyarakat yang masih terbelakang dalam memahami esensi berdemokrasi, inilah sejatinya kedunguan politik kita saat ini. ***

 

Penulis adalah Direktur Cianjur Institute, Pengurus LTNU dan Komnasdik Jawa Barat, Dosen FDK UIN SGD Bandung, dan kini bergiat juga sebagai Budak Angon di Pesantren Kehidupan Kyai Naga Sari.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X