Menakar Soliditas Parpol Koalisi dan Potensi Lahirnya Poros Ketiga di Pilkada Cianjur

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Senin, 1 Juli 2024 | 11:26 WIB
Ridwan Mubarak: Penulis adalah Direktur Cianjur Institute, Pengurus LTNU dan Komnasdik Jawa Barat, Dosen FDK UIN SGD Bandung, dan kini bergiat juga sebagai Budak Angon di Pesantren Kehidupan Kyai Naga Sari.
Ridwan Mubarak: Penulis adalah Direktur Cianjur Institute, Pengurus LTNU dan Komnasdik Jawa Barat, Dosen FDK UIN SGD Bandung, dan kini bergiat juga sebagai Budak Angon di Pesantren Kehidupan Kyai Naga Sari.

Menakar Parpol Koalisi dan Potensi Lahirnya Poros Ketiga

“Koalisi Rapuh Jelang Pilkada Cianjur 2024, Antara Perubahan dan Kebutuhan Pragmatis”

Oleh : Ridwan Mubarak

 

Opini/ JournalNusantara - Hingar-bingar jelang Pilkada Cianjur 2024 sangatlah terasa, atmosfer poitik sudah kian memanas. Parpol telah berbenah dan bergiat memacu mesin politiknya agar siap tempur menghadapi segala kemungkinan. Hingga saat ini setidaknya ada dua faksi besar Parpol koalisi, yakni Koalisi Cianjur Emas yang merupakan produk Deklarasi Hotel Amen dengan lima Partai Koalisi yakni PDIP, PPP, PAN, PKB dan Partai Demokrat dan yang kedua adalah Koalisi Cianjur Sugih Mukti yang merupakan hasil deklarasi politik Pendopo Tumaritis dengan komposisi empat Partai koalisi yakni Golkar, Gerindra, PKS dan Nasdem.

Diketahui sebelumnya, bahwa Koalisi Cianjur Emas mengusung  pasangan Herman Suherman- M. Solih (Ibang)  yang merupakan kontestan Petahana yang diyakini mampu menguasai sistem pemerintahan di Kab. Cianjur mulai dari Birokrasi hingga masyarakat akar rumput. Bahkan untuk beberapa publikasi hasil survei lembaga riset (dan biasanya berbayar), Herman Suherman masih menduduki posisi puncak, jauh mengungguli kontestan lainnya.

Namun perlu menjadi catatan besar untuk PDIP dan rekan koalisinya, hasil survei politik hanyalah potret kecil dari sebuah realitas politik yang absurd dan sulit diterka dengan mata telanjang. Berkaca dari pengalaman Pilkada DKI Jakarta tahun 2017, pasangan Ahok-Djarot yang didukung oleh PDIP diunggulkan oleh semua lembaga survei politik, dan tiada satupun lembaga survei (biasanya berbayar) yang mengunggulkan pasangan Anies-Sandi (terkecuali lembaga survei internal partai).

Alhasil, pasangan Anies-Sandi menang telak mengalahkan Ahok-Djarot. Pasangan calon nomor pemilihan tiga itu menang dengan persentase 57,96 persen suara. Sementara itu, pasangan calon Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat memperoleh 42,04 persen suara. Survei seringkali berfokus pada elektabilitas calon tertentu tanpa memperhitungkan responden yang belum menentukan pilihan. Survei merupakan potret data yang fleksibel karena data bisa berubah setiap waktu, setiap saat. Pun demikian dengan hasil survei Pilkada Cianjur yang mengunggulkan Herman Suherman, tidak dapat memberikan garansi bahwa pasangan Herman-Ibang akan menang di Pilkada nanti.

Hal ini terkait dengan dua hal, pertama sosok pendamping Herman Suherman selaku petahana hendaklah pribadi yang dapat diterima oleh semua kalangan, lintas kelompok dan lintas golongan. Hendaknya, calon pendamping  Herman memiliki ceruk besar calon pemilih di kalangan akar rumput, atau setidaknya ia memiliki saham di salahsatu partai pengusung ataupiun pendukung. Jika tidak, poros kekuatan hanya berpusat pada Herman saja, dalam hal ini tidak ada pembagian peran yang signifikan untuk turut mengkndusifkan Parpol koalisi. Tidak ada keseimbangan daya tawar politik di depan calon pemilih. Berikutnya, ia tidak memiliki beban sejarah masa lalu dalam lingakr birokrasi ataupun urusan-urusan sipil di luar pemerintahan.

Kedua, lima koalisi Parpol Cianjur Emas sangatlah rapuh jika dikaitkan dengan irisan kepentinagn politik nasional (Jakarta Center). Kita semua faham, di luar PDIP dan PPP merupakan Parpol koalisi pendukung Prabowo dan fatsun terhadap kepentingan politik Jokowi.  Demokrat, PAN bahkan PKB ketika berbicara kepentingan Jakarta (pemerintah pusat) orientasi politiknya adalah Prabowo-Jokowi bukan yang lain.

Munculnya pemberitaan atas pemanggilan dan pemeriksaan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto oleh Polda Metro Jaya dan KPK terkait indikasi kasus suap Harun Masiku, menjadi warning keras adanya adu kekuatan maha dahsyat antara PDIP dan Parpol Loyalis Jokowi-Prabowo. Apakah lantas rembesannya akan tiba pula di Cianjur atas berbagai dugaan malapraktik kekuasaan oleh penguasa lokal? Hanya waktu yang akan menjawab prediksi-prediksi politik tersebut.

Selain itu, selama rekomendasi dari DPP belum terbit untuk semua Parpol pendukung Herman-Ibang sangat memungkinkan PKB, PAN dan juga Demokrat untuk pindah haluan dan menjadi bagian koalisi Cianjur Sugih Mukti. Atau memungkin pula munculnya opsi ketiga yakni terbentuknya poros baru dengan kandidat yang berbeda dengan yang diusung oleh koalisi Cianjur Emas ataupun Koalisi Cianjur Sugih Mukti sebagai Paslon alternatif.

Hadirnya Paslon poros ketiga bisa menjadi kuda hitam, namun bisa pula menjadi bagian kepentingan politik petahana untuk memecah suara koalisi Cianjur Sugih Mukti. Selama koalisi Cianjur Sugih Mukti belum memunculkan nama Paslon menjelang Pilkada Cianjur ini, maka selama itu pula tingkat kerapuhan  dan krisis komitmen politik akan mewujud menjadi perpecahan, baik kubu Cianjur Emas ataupun Kubu Cianjur Sugih Mukti. Misal, terjadinya koalisi Demokrat dan Nasdem sebagai poros baru, karena cukup kursi parlemen (20% kursi parlemen) untuk memperoleh tiket di Pilkada Cianjur tahun ini.

Lantas sebenarnya, Parpol mana yang kini tengah head to head untuk memenangkan Pilkada Cianjur? Jawabannya mudah ditebak, PDIP vs Golkar. Disharmonisasi Herman dan Tb. Mulyana (Ketua DPD Golkar Cianjur) selama 3 tahun terakhir ini, cukup menjadi alasan bertarungnya dua sosok ini di “sasana ring” Pilkada. Kandidat yang diusung oleh PDIP adalah ptahana, sosok yang kini sedang berkuasa penuh atas keberlanjutan Pemerintahan di skup lokal Cianjur. Herman Suherman, suka ataupun tidak faktanya adalah Kepala Daerah yang juga petahana yang kini sangat diuntungkan oleh tiga hal, yakni akses luas terhadap APBD, Kebijakan, dan Jejaring Birokrasi. Tiga hal ini cukup menjadi alasan Herman untuk memenangkan Pilkada Cianjur, itupun jika ia dapat memaksimalkannnya dan paham cara untuk “menggunakannya”.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X