Mengubah Anak 'Nakal' Menjadi Pribadi yang Lebih Baik dan Bertanggung Jawab

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Senin, 17 November 2025 | 20:00 WIB
Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang telah mengirimkan anak nakal di Jabar ke barak militer didukung Menteri HAM Natalius Pigai. (*)
Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang telah mengirimkan anak nakal di Jabar ke barak militer didukung Menteri HAM Natalius Pigai. (*)

Journalnusantara.com - Istilah 'anak nakal' sering dilekatkan pada anak-anak yang menunjukkan perilaku sulit, menentang, atau sulit diatur. Padahal, sering kali perilaku 'nakal' tersebut adalah bentuk komunikasi atau ekspresi dari kesulitan emosional, kurangnya perhatian, atau kebutuhan yang tidak terpenuhi. Tugas utama orang tua dan pendidik bukanlah menghukum, melainkan memahami akar masalah dan memfasilitasi transformasi perilaku yang positif. Proses ini membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pendekatan yang penuh kasih.

Langkah awal menuju perubahan adalah mengubah sudut pandang. Orang tua perlu melihat perilaku buruk sebagai sebuah sinyal, bukan identitas. Alih-alih melabeli anak sebagai "nakal," fokuslah pada perilaku spesifik yang perlu diperbaiki. Misalnya, mengubah kalimat "Kamu anak nakal karena berteriak," menjadi "Berteriak adalah perilaku yang kurang tepat; mari kita bicarakan dengan suara yang lebih tenang." Pendekatan ini memisahkan anak dari perilakunya, sehingga anak tahu bahwa dirinya tetap dicintai meskipun perilakunya perlu diperbaiki.

Komunikasi yang efektif memainkan peran sentral. Penting untuk menciptakan ruang aman di mana anak merasa nyaman untuk mengungkapkan perasaannya tanpa takut dihakimi. Seorang psikolog anak pernah menyampaikan bahwa, "Perubahan dimulai ketika anak merasa didengar dan dipahami, bukan saat mereka dipaksa untuk patuh." Dengan mengetahui alasan di balik perilaku sulit—misalnya rasa cemburu, kelelahan, atau kesulitan akademik—solusi yang diberikan akan menjadi lebih tepat sasaran.

Selain komunikasi, penetapan batasan yang jelas dan konsisten sangat diperlukan. Anak-anak membutuhkan struktur dan batasan yang tegas, namun tetap adil. Ketika batasan dilanggar, konsekuensi harus diberikan secara logis dan bukan bersifat hukuman emosional. Konsistensi dalam menegakkan aturan akan mengajarkan anak mengenai tanggung jawab atas setiap pilihannya. Sebaliknya, ketika anak menunjukkan perilaku positif, berikan penguatan positif, seperti pujian spesialis atau penghargaan non-materi. Fokus pada penguatan perilaku baik ini akan secara bertahap mendorong anak untuk mengulanginya, menjadikan proses perubahan dari 'nakal' menjadi baik sebagai sebuah perjalanan yang memberdayakan dan berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X