Mutiara Pagi: Zaman Telah Bertukar (Bagian 2031)

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Senin, 17 November 2025 | 14:25 WIB
pemandangan sunrise di bukit penanjakan gunung bromo (Bromo.my.id)
pemandangan sunrise di bukit penanjakan gunung bromo (Bromo.my.id)

Inilah tapal batas antara masa lalu dan masa kini
di mana bayang-bayang sejarah tegak berdiri
seperti pohon tua yang tak ingin tumbang
meski angin perubahan menggesek batangnya
berulang-ulang

Seorang lelaki renta, matanya rapuh seperti peta usang
bertanya padaku, mengapa aku menulis berulang-ulang
di atas kertas dengan beribu mutiara
tempat kata-kata berasal dari dalam samudera

“Aku anak zaman,” jawabku lirih
suaraku patah seperti lesung yang kehilangan alu
dan ia mengangguk: pelan, penuh kasih
seakan membaca garis nasib
yang kusembunyikan di balik senyum

“Kubilang padamu,” katanya,
“telah kualami banyak pergantian musim
pada zaman yang lebih bandel dari manusia.
Dulu, kata-kata ditempa dari bara
kini, disulap dari pura-pura
yang memantulkan suara,
bukan berasal dari dalam dada.”

Diam merayap seperti jamur di dinding rumahku
lalu ia tersenyum: senyum yang mengingatkanku
pada aroma pertama kali kertas kutulis
di halaman sekolah yang penuh romantis

“Anak-anakku pergi mencari jawaban
di kota yang tak mengenal rembulan.
Mereka berjuang dengan pena
dalam hiruk-pikuk dan bisingnya dunia
Kini, mereka pulang bukan dengan wajah sendiri
dan bahasa yang tak sepenuhnya kumengerti.”

Aku memandangnya, mendengar dengan sabar
Memang benar: zaman telah bertukar
lebih cepat dari pikiran manusia,
yang ingin tinggal walau sedetik lebih lama

Aku ingin menghiburnya
tapi tak mampu melakukannya
dari dunia yang kuimpikan
dengan keringat dan ketakutan yang kusembunyikan

“Jika engkau kata,” katanya pelan,
“maka jadilah kalimat penuh magnet kebaikan
bukan jeda yang menggantung di tepi jalan
Jika engkau pena, jadilah yang memberi damai
bukan yang patah sebelum dipakai.”

Malam turun perlahan seperti tirai kampung
mengakhiri drama yang tak pernah rampung.
Di kejauhan, jalanan bergemuruh
oleh roda-roda zaman baru
yang tak pernah menoleh pada api masa lalu

Namun di dadaku, kudengar detak kata
seperti tabuh yang mengajakku untuk berdoa:
meski zaman telah bertukar,
semoga langkah berada di jalan yang benar

Malang, 17 November 2025
Salam sehat,

M. Sinal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mutiara Pagi: Kembali pada Diri (Bagian 2274)

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Sembunyikan (Bagian 2273)

Jumat, 17 Juli 2026 | 05:47 WIB

Mutiara Pagi: Ketenangan Batin (Bagian 2272)

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:03 WIB

Mutiara Pagi: Berikan Sebagian (Bagian 2270)

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:32 WIB

Mutiara Pagi: Simpan Sebagian (Bagian 2269)

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB

Mutiara Pagi: Prasangka (Bagian 2256)

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:37 WIB
X