Inilah tapal batas antara masa lalu dan masa kini
di mana bayang-bayang sejarah tegak berdiri
seperti pohon tua yang tak ingin tumbang
meski angin perubahan menggesek batangnya
berulang-ulang
Seorang lelaki renta, matanya rapuh seperti peta usang
bertanya padaku, mengapa aku menulis berulang-ulang
di atas kertas dengan beribu mutiara
tempat kata-kata berasal dari dalam samudera
“Aku anak zaman,” jawabku lirih
suaraku patah seperti lesung yang kehilangan alu
dan ia mengangguk: pelan, penuh kasih
seakan membaca garis nasib
yang kusembunyikan di balik senyum
“Kubilang padamu,” katanya,
“telah kualami banyak pergantian musim
pada zaman yang lebih bandel dari manusia.
Dulu, kata-kata ditempa dari bara
kini, disulap dari pura-pura
yang memantulkan suara,
bukan berasal dari dalam dada.”
Diam merayap seperti jamur di dinding rumahku
lalu ia tersenyum: senyum yang mengingatkanku
pada aroma pertama kali kertas kutulis
di halaman sekolah yang penuh romantis
“Anak-anakku pergi mencari jawaban
di kota yang tak mengenal rembulan.
Mereka berjuang dengan pena
dalam hiruk-pikuk dan bisingnya dunia
Kini, mereka pulang bukan dengan wajah sendiri
dan bahasa yang tak sepenuhnya kumengerti.”
Aku memandangnya, mendengar dengan sabar
Memang benar: zaman telah bertukar
lebih cepat dari pikiran manusia,
yang ingin tinggal walau sedetik lebih lama
Aku ingin menghiburnya
tapi tak mampu melakukannya
dari dunia yang kuimpikan
dengan keringat dan ketakutan yang kusembunyikan
“Jika engkau kata,” katanya pelan,
“maka jadilah kalimat penuh magnet kebaikan
bukan jeda yang menggantung di tepi jalan
Jika engkau pena, jadilah yang memberi damai
bukan yang patah sebelum dipakai.”
Malam turun perlahan seperti tirai kampung
mengakhiri drama yang tak pernah rampung.
Di kejauhan, jalanan bergemuruh
oleh roda-roda zaman baru
yang tak pernah menoleh pada api masa lalu
Namun di dadaku, kudengar detak kata
seperti tabuh yang mengajakku untuk berdoa:
meski zaman telah bertukar,
semoga langkah berada di jalan yang benar
Malang, 17 November 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Presiden Mahasiswa Al-Azhary Soroti Gagalnya Perbup 38/2021 di Tengah Maraknya Kawin Kontrak di Cianjur
Masjid di Mall, Oase Spiritual di Tengah Hiruk Pikuk Konsumerisme
Sibuk Bukan Alasan, Menjaga Ibadah di Tengah Keterbatasan Waktu
Energi Masa Muda, Saat Terbaik untuk Memperbanyak Ibadah
Melintasi Jantung Priangan, Kereta Api Siliwangi, Penghubung Pesisir Selatan Jawa Barat
Menghubungkan Dua Provinsi, Jejak Perjalanan Jauh Kereta Api Pasundan
Revolusi Mobilitas Jawa, Kehadiran Kereta Cepat Indonesia
Jantung Logistik Nasional, Pelabuhan Tanjung Priok dan Peran Sentralnya
Mutiara Pagi: Dari Tepian Sungai Mahakam (Bagian 2030)
Ikatan Istri Pegadaian Jakarta Gelar Pelatihan Public Speaking, Tingkatkan Kualitas Diri dan Dukungan Karier Suami