Dari tepian sungai Mahakam
kita diajak merenung dalam-dalam
bahwa hari akan retak
bila kearifan terus dirusak
dan peradaban akan pudar
bila manusia sudah tak benar
Sebab yang lestari
keseimbangan dalam hidup ini:
antara kayu yang tumbuh
dan tangan yang patuh
antara arus yang deras
dan hati yang tak culas
Di tepian sungai Mahakam
Aku serasa terlambat memahami
bahwa yang terjadi hari ini
adalah bisikan dari masa silam
meminta kita menafsir ulang
agar suara leluhur tak hilang
Di atas tepian sungai Mahakam
asap pagi menggantung seperti selendang merah
hinggap di bahu bukit-bukit sejarah
yang masih menyimpan langkah
para penari tambang yang serakah
di sanalah Mahakam berbisik:
“Jagalah aku, dan aku akan menjaga
peradabanmu.”
Diamku terbawa aliran sungai
Yang mengajarkan tentang arti damai
Sambil menatap dinding perahu
yang sabar menunggu cerita baru
Di tepian sungai ini
aku belajar memahami
bahwa waktu, bukan sekadar berlalu
melainkan menuntun kita
untuk menjaga dan merawat alam semesta
Samarinda, 16 November 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Mahkota (Bagian 2028)
Haji, Suara Hati dan Izin Ilahi Menuju Baitullah
Pondasi Keimanan, Kedudukan Haji sebagai Rukun Islam Kelima
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Rahmat dan Peringatan: Hujan, Simbol Berkah dan Keseimbangan Alam (Bagian 13)
Mutiara Pagi: Ibu Kota Nusantara (Bagian 2029)
Presiden Mahasiswa Al-Azhary Soroti Gagalnya Perbup 38/2021 di Tengah Maraknya Kawin Kontrak di Cianjur
Masjid di Mall, Oase Spiritual di Tengah Hiruk Pikuk Konsumerisme
Sibuk Bukan Alasan, Menjaga Ibadah di Tengah Keterbatasan Waktu
Energi Masa Muda, Saat Terbaik untuk Memperbanyak Ibadah
Melintasi Jantung Priangan, Kereta Api Siliwangi, Penghubung Pesisir Selatan Jawa Barat