Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Rahmat dan Peringatan: Hujan, Simbol Berkah dan Keseimbangan Alam (Bagian 13)

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 14 November 2025 | 07:56 WIB
Ilustrasi Hujan
Ilustrasi Hujan

 

Journalnusantara.com - Hujan merupakan sebuah fenomena alam yang rutin terjadi, seringkali dilihat hanya sebagai siklus air biasa, padahal dalam pandangan spiritual dan ekologis, ia adalah manifestasi nyata dari berkah dan kasih sayang Allah SWT.

Di dalam Al-Qur'an, hujan berulang kali disebut sebagai rahmat yang diturunkan menurut kadar yang diperlukan (Az-Zukhruf: 11), sebuah bukti dari keseimbangan sempurna yang diciptakan oleh Sang Pencipta di alam semesta.

Kehadiran air hujan adalah sumber kehidupan. Ia menghidupkan kembali tanah yang tandus, menumbuhkan biji-bijian dan tanaman yang menjadi sumber rezeki bagi seluruh makhluk hidup, dari manusia hingga hewan.

Allah SWT berfirman: "Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup" (Al-Anbiya': 30). Ayat ini menegaskan bahwa setiap tetes air hujan adalah karunia yang esensial dan tidak dapat digantikan.

Ketika kekeringan melanda, kedatangan hujan disambut dengan suka cita luar biasa, memenuhi kebutuhan air yang menjadi prasyarat kelangsungan aktivitas di muka bumi.

Namun, hujan tidak hanya membawa berkah dalam bentuk materi. Dalam ajaran agama, waktu turunnya hujan adalah salah satu momen mustajab untuk berdoa.

Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak doa saat hujan turun, karena itu adalah waktu di mana rahmat Allah sedang tercurah. Ini menjadikan hujan sebagai peluang spiritual, di mana seorang hamba dapat memanjatkan permohonan dengan harapan besar untuk dikabulkan.

Meski demikian, hujan juga berfungsi sebagai pengingat dan peringatan bagi manusia. Intensitas hujan yang berlebihan, yang kerap berujung pada bencana seperti banjir, bukanlah semata-mata musibah alami, melainkan seringkali akibat dari kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh tangan manusia itu sendiri.

Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menunjukkan kekhawatiran saat melihat mendung, takut jika awan tersebut membawa azab dan bukan hanya hujan.

Hal ini tentunya mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas rahmat-Nya, sekaligus memohon perlindungan agar hujan yang turun senantiasa menjadi berkah, bukan bencana.

Oleh: Tim Media DKM Al-Muhajirin, Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X