Journalnusantara.com - Kereta Api (KA) Pasundan merupakan salah satu layanan kereta api antarkota jarak jauh kelas ekonomi yang memainkan peran krusial dalam menghubungkan dua pusat populasi besar di Pulau Jawa, yaitu Bandung, Jawa Barat, dan Surabaya, Jawa Timur. Nama "Pasundan" sendiri diambil dari sebutan untuk wilayah kebudayaan suku Sunda, yang mencakup mayoritas Jawa Barat. Layanan ini menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang memerlukan transportasi darat yang efisien dan ekonomis untuk menempuh rute lintas provinsi yang panjang dan padat.
Perjalanan yang ditempuh oleh KA Pasundan terkenal memakan waktu cukup lama, melewati berbagai kota penting di jalur selatan Jawa. Berangkat dari Stasiun Kiaracondong (Bandung) menuju Stasiun Surabaya Gubeng, rute ini melewati beragam lanskap, mulai dari pegunungan Priangan yang sejuk, hamparan dataran rendah Jawa Tengah, hingga memasuki kawasan industri dan pertanian di Jawa Timur. Meski merupakan kelas ekonomi, layanan ini menawarkan pengalaman unik dalam melihat keragaman geografis dan aktivitas masyarakat sepanjang rel Jawa bagian selatan.
Keberadaan KA Pasundan memiliki dampak sosial-ekonomi yang signifikan. Sebagai moda transportasi yang terjangkau, ia memfasilitasi pergerakan buruh migran, pelajar, dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang beraktivitas di antara dua provinsi tersebut. Manager Humas PT KAI Daop 2 Bandung pernah menyatakan bahwa, secara tidak langsung, "KA Pasundan adalah tulang punggung konektivitas ekonomi rakyat kecil antara Jawa Barat dan Jawa Timur, membantu menjaga stabilitas pergerakan barang dan jasa antardaerah."
Dioperasikan dengan jadwal reguler, kereta ini seringkali menjadi saksi bisu berbagai cerita perjalanan, mulai dari pertemuan keluarga hingga perjuangan para perantau. Ketepatan waktu dan keamanan yang ditawarkan oleh layanan kereta api modern menjadikan KA Pasundan tetap relevan di tengah persaingan moda transportasi lainnya. Dengan demikian, KA Pasundan tidak hanya sekadar rangkaian gerbong, tetapi representasi dari jalur kehidupan yang terus menghubungkan jantung Pasundan dengan pesisir timur Jawa.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Mahkota (Bagian 2028)
Haji, Suara Hati dan Izin Ilahi Menuju Baitullah
Pondasi Keimanan, Kedudukan Haji sebagai Rukun Islam Kelima
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Rahmat dan Peringatan: Hujan, Simbol Berkah dan Keseimbangan Alam (Bagian 13)
Mutiara Pagi: Ibu Kota Nusantara (Bagian 2029)
Presiden Mahasiswa Al-Azhary Soroti Gagalnya Perbup 38/2021 di Tengah Maraknya Kawin Kontrak di Cianjur
Masjid di Mall, Oase Spiritual di Tengah Hiruk Pikuk Konsumerisme
Sibuk Bukan Alasan, Menjaga Ibadah di Tengah Keterbatasan Waktu
Energi Masa Muda, Saat Terbaik untuk Memperbanyak Ibadah
Melintasi Jantung Priangan, Kereta Api Siliwangi, Penghubung Pesisir Selatan Jawa Barat