Journalnusantara.com - Di tengah gempuran konten digital, peran orang tua dalam memilih tontonan untuk anak menjadi semakin krusial. Tayangan yang tepat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai media edukasi yang efektif, membentuk karakter, dan menstimulasi perkembangan kognitif anak. Penting bagi orang tua untuk bersikap selektif, memastikan bahwa waktu yang dihabiskan anak di depan layar memberikan dampak positif dan nilai-nilai yang sesuai.
Memilih tontonan yang mendidik harus menjadi prioritas utama. Tontonan yang baik kerap disebut sebagai edutainment, yakni perpaduan antara edukasi dan hiburan. Misalnya, kanal seperti Nussa Official dan Diva The Series menyajikan cerita sehari-hari dengan nilai-nilai moral dan agama yang kental dalam format animasi yang menarik. Sementara itu, kanal seperti National Geographic Kids atau Kok Bisa? dapat memicu rasa ingin tahu anak mengenai ilmu pengetahuan, alam semesta, dan fakta menarik di sekitar mereka. Tayangan ini memberikan pengetahuan dasar dengan cara yang mudah dipahami oleh anak-anak usia prasekolah hingga sekolah dasar.
Asosiasi Dokter Anak Amerika (AAP) menekankan pentingnya mengatur durasi waktu layar (screentime) sesuai usia anak. Tontonan harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak agar tidak menyebabkan overstimulasi, terutama bagi anak usia dini. Kanal seperti Cocomelon dan Pinkfong sering direkomendasikan untuk usia prasekolah karena menyajikan lagu dan animasi sederhana yang membantu pengenalan huruf, angka, dan emosi. Orang tua perlu mendampingi dan sesekali berinteraksi dengan anak mengenai apa yang mereka tonton. "Orang tua harus menjadi kurator tontonan anak. Bukan hanya sekadar memberikan gawai, tapi harus ada komunikasi dan filterisasi," jelas seorang psikolog anak.
Tontonan yang ditonton anak memberikan dampak langsung pada pembentukan karakter dan perilaku mereka. Oleh karena itu, hindari konten yang mengandung kekerasan, bahasa kasar, atau visual yang terlalu cepat dan bising. Pilihlah tontonan yang mendorong empati, kerja sama, dan pemecahan masalah sederhana, seperti yang disajikan oleh Little Einsteins atau StoryBots. Dengan memilih konten yang positif, orang tua berinvestasi pada kecerdasan emosional dan sosial anak. Inilah kunci agar waktu menonton layar dapat menjadi momen yang produktif, bukan sekadar pelarian atau pengisi waktu kosong.
Artikel Terkait
Sibuk Bukan Alasan, Menjaga Ibadah di Tengah Keterbatasan Waktu
Melintasi Jantung Priangan, Kereta Api Siliwangi, Penghubung Pesisir Selatan Jawa Barat
Menghubungkan Dua Provinsi, Jejak Perjalanan Jauh Kereta Api Pasundan
Revolusi Mobilitas Jawa, Kehadiran Kereta Cepat Indonesia
Jantung Logistik Nasional, Pelabuhan Tanjung Priok dan Peran Sentralnya
Mutiara Pagi: Dari Tepian Sungai Mahakam (Bagian 2030)
Ikatan Istri Pegadaian Jakarta Gelar Pelatihan Public Speaking, Tingkatkan Kualitas Diri dan Dukungan Karier Suami
Mutiara Pagi: Zaman Telah Bertukar (Bagian 2031)
PKB Cianjur Siapkan 700 Kader Milenial yang Loyalis untuk Berkontribusi di Masyarakat
Front Aksi Mahasiswa Cianjur Desak Transparansi Anggaran Fantastis dan Pelayanan Adminduk Bebas Pungli