Journalnusantara.com - Dalam hiruk pikuk dunia modern yang mengejar materi, seringkali kita lupa bahwa kekayaan sejati tidak melulu soal harta. Hari ini, saya mendapat kehormatan menjadi pemateri dalam bedah Kitab Tashawuf lil Hayat karya Syech Akbar Fathurahman, mursyid Tarekat Idrisiyah, Tasikmalaya. Kitab ini, meskipun tebal, disajikan dengan bahasa Arab yang ringan dan mudah dicerna, membuka mata kita pada dimensi spiritual yang selama ini mungkin terabaikan.
Salah satu hal yang paling membuat saya takjub adalah kemampuan Syech Akbar Fathurahman dalam menyusun kitab berbahasa Arab yang mendalam, meskipun beliau tidak pernah menempuh pendidikan di Timur Tengah. Ini membuktikan bahwa pesantren di Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk melahirkan ulama-ulama kaliber dunia, seperti halnya KH Sahal Mahfudz yang juga merupakan produk pesantren dalam negeri. Prestasi ini menegaskan bahwa kekayaan ilmu dan spiritualitas tidak harus dicari di negeri orang, melainkan bisa tumbuh subur di tanah air kita sendiri.
Diskusi kami hari ini menyentuh pertanyaan yang cukup provokatif: "Bisakah tasawuf membuat orang kaya?" Jawabannya, ternyata bisa. Meski tasawuf tidak secara langsung bertujuan untuk menjadikan seseorang kaya raya, ajarannya tentang kejernihan hati, ketenangan jiwa, dan sikap qana'ah (menerima dengan ikhlas) justru membuka pintu rezeki dari arah yang tidak terduga. Tasawuf mengajarkan kita untuk melepaskan ketergantungan pada hal-hal duniawi dan fokus pada kedekatan dengan Tuhan. Paradoxnya, ketika kita melepas, di situlah kita justru menerima lebih banyak. Untuk memahami lebih dalam, saya sarankan Anda untuk membaca kitabnya. Di sana, rahasia-rahasia kekayaan batin dan hubungannya dengan kekayaan materi akan terkuak dengan jelas.
Artikel Terkait
Masyarakat Desa Tapak Kuda Menuntut Transparansi: Dari Surat Rekomendasi ke SK yang Tertunda
Kisah Inspiratif Kader IPNU Asal Cianjur, Luthfi Muhammad Fikri Tapaki Jejak Dakwah Global
Penutupan KKN UNPI 2025, Kelompok Desa Cibarebeg Raih Juara Pertama
Teladan Moral Rais Aam PBNU Jadi Rujukan BEM-PTNU dalam Kasus Dana Haji
Bisnis Haram: Korupsi dan Suap, Luka yang Menggerogoti Bangsa
Politik Autentik
Memutus Mata Rantai Kemiskinan dengan Program Indonesia Pintar
Mutiara Pagi: Bahasa yang Amanah (Bagian 1964)
Program Indonesia Pintar
Mutiara Pagi: Bahasa yang Benar (Bagian 1965)