Ledakan Bom Ketiga: Kisah Penghormatan Jepang kepada Mohammad Natsir yang Terlupakan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 6 Juli 2025 | 22:50 WIB
Pahlawan Nasional Mohammad Natsir adalah Ulama, politikus, guru, pejabat, penulis, seniman yang berikan sumbangsih untuk bangsa serta membawa nilai Islam,moral, kejujuran serta budaya  dalam Bingkai Indonesia termasuk  sekitar 45 karya bukunya (Foto: Repro dari buku "M.Natsir: sebuah biografi" karya Ajip Rosidi )
Pahlawan Nasional Mohammad Natsir adalah Ulama, politikus, guru, pejabat, penulis, seniman yang berikan sumbangsih untuk bangsa serta membawa nilai Islam,moral, kejujuran serta budaya dalam Bingkai Indonesia termasuk sekitar 45 karya bukunya (Foto: Repro dari buku "M.Natsir: sebuah biografi" karya Ajip Rosidi )

Oleh: Agus Maksum – Anggota Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia Jatim

Nama Mohammad Natsir mungkin tak sering terdengar dalam pelajaran sejarah di sekolah. Namun bagi bangsa Jepang, wafatnya mantan Perdana Menteri ke-5 Republik Indonesia ini diibaratkan sebagai "ledakan bom atom ketiga" yang mengguncang hati mereka.

Penghormatan luar biasa dari Jepang terhadap Natsir bukan tanpa alasan. Di balik sosok sederhana dan bersahaja itu, tersimpan kisah luar biasa yang nyaris hilang dari catatan sejarah bangsa sendiri.

Faks dari Tokyo: Duka yang Tidak Biasa

Saat Natsir wafat pada Februari 1993, suasana duka menyelimuti keluarga besar Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII). Di kantor DDII Jawa Timur, saat itu, penulis menerima faks dari Tokyo. Pengirimnya: Perdana Menteri Jepang, Kiichi Miyazawa.

Bukan sekadar ucapan belasungkawa biasa, isi faks itu membuat bulu kuduk berdiri:

“Mendengar Muhammad Natsir meninggal, serasa Jepang mendapatkan serangan bom atom ketiga yang tepat jatuh di tengah kota Tokyo. Duka yang sangat mendalam bagi kami seluruh bangsa Jepang.”

Ungkapan yang dramatis, menyentuh, dan memunculkan pertanyaan besar: apa sebenarnya hubungan Mohammad Natsir dengan Jepang?

Jawaban atas pertanyaan itu baru terungkap lebih dari sepuluh tahun kemudian.

Diplomasi dalam Senyap: Lobi dari Penjara

Pada tahun 2003, penulis bertemu dengan Hamada San, seorang diplomat senior Jepang yang telah lama bertugas di Indonesia. Dalam pertemuan itulah tabir mulai terbuka.

Menurut Hamada, pada masa Jepang mengalami embargo minyak oleh Amerika Serikat, ekonomi mereka nyaris lumpuh. Semua jalur diplomatik menemui jalan buntu. Dalam kondisi itulah muncul nama Mohammad Natsir seorang tokoh yang bahkan saat itu sedang mendekam di penjara Indonesia.

Atas saran Laksamana Maeda tokoh yang membantu Proklamasi Indonesia pemerintah Jepang mengutus diplomat bernama Nakajima San untuk menemui Natsir di penjara. Permintaan mereka: agar Natsir bersedia melobi Raja Faisal dari Arab Saudi untuk mengirimkan minyak ke Jepang.

Natsir hanya meminta secarik kertas dan pulpen. Ia menulis surat pendek dalam bahasa Arab, lalu melipatnya dan menyerahkannya pada utusan Jepang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB

Menghindari Kemacetan Puncak

Sabtu, 4 April 2026 | 10:40 WIB
X