Oleh: Agus Maksum – Anggota Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia Jatim
Nama Mohammad Natsir mungkin tak sering terdengar dalam pelajaran sejarah di sekolah. Namun bagi bangsa Jepang, wafatnya mantan Perdana Menteri ke-5 Republik Indonesia ini diibaratkan sebagai "ledakan bom atom ketiga" yang mengguncang hati mereka.
Penghormatan luar biasa dari Jepang terhadap Natsir bukan tanpa alasan. Di balik sosok sederhana dan bersahaja itu, tersimpan kisah luar biasa yang nyaris hilang dari catatan sejarah bangsa sendiri.
Faks dari Tokyo: Duka yang Tidak Biasa
Saat Natsir wafat pada Februari 1993, suasana duka menyelimuti keluarga besar Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII). Di kantor DDII Jawa Timur, saat itu, penulis menerima faks dari Tokyo. Pengirimnya: Perdana Menteri Jepang, Kiichi Miyazawa.
Bukan sekadar ucapan belasungkawa biasa, isi faks itu membuat bulu kuduk berdiri:
“Mendengar Muhammad Natsir meninggal, serasa Jepang mendapatkan serangan bom atom ketiga yang tepat jatuh di tengah kota Tokyo. Duka yang sangat mendalam bagi kami seluruh bangsa Jepang.”
Ungkapan yang dramatis, menyentuh, dan memunculkan pertanyaan besar: apa sebenarnya hubungan Mohammad Natsir dengan Jepang?
Jawaban atas pertanyaan itu baru terungkap lebih dari sepuluh tahun kemudian.
Diplomasi dalam Senyap: Lobi dari Penjara
Pada tahun 2003, penulis bertemu dengan Hamada San, seorang diplomat senior Jepang yang telah lama bertugas di Indonesia. Dalam pertemuan itulah tabir mulai terbuka.
Menurut Hamada, pada masa Jepang mengalami embargo minyak oleh Amerika Serikat, ekonomi mereka nyaris lumpuh. Semua jalur diplomatik menemui jalan buntu. Dalam kondisi itulah muncul nama Mohammad Natsir seorang tokoh yang bahkan saat itu sedang mendekam di penjara Indonesia.
Atas saran Laksamana Maeda tokoh yang membantu Proklamasi Indonesia pemerintah Jepang mengutus diplomat bernama Nakajima San untuk menemui Natsir di penjara. Permintaan mereka: agar Natsir bersedia melobi Raja Faisal dari Arab Saudi untuk mengirimkan minyak ke Jepang.
Natsir hanya meminta secarik kertas dan pulpen. Ia menulis surat pendek dalam bahasa Arab, lalu melipatnya dan menyerahkannya pada utusan Jepang.
Artikel Terkait
Dari Kontraktor ke Petani Sukses, Kisah Tri Heriyanto Raup Puluhan Juta dari Budidaya Talas
Perubahan Cuaca dan Dampaknya terhadap Kehidupan Sehari-hari
Technische Hoogeschool Bandung, Cikal Bakal Institut Teknologi Bandung
Ajaran Yahudi: Di antara Monoteisme Ketat dan Etnosentrisme Teologis
Kembali ke Putih Abu: Reuni 34 Tahun Alumni SMANSA 1991 Cianjur, Merayakan Masa Lalu dan Menyulam Masa Depan
PPP Sebagai Alat Perjuangan Umat Islam, Menguatkan Kepemimpinan Kader di Cianjur
Mutiara Pagi: Jejak Para Bijak (Bagian 1893)
LRT Jakarta Fase 1B: Progres Pesat, Konektivitas Jakarta Kian Terwujud!
Tuntas Semester 2 Doktoral MPI, Fondasi Inovasi dan Akselerasi Pendidikan Berbasis Digital
RAT KSU YAHATI: “Koperasi Kuat, Anggota Sejahtera”