Kisah Amangkurat I, Menghabisi Sultan Cirebon, Menantunya Sendiri

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 7 Juni 2025 | 13:00 WIB

Journalnusantara.com - Wafatnya Sultan Cirebon ketiga setelah dipaksa hadir ke Mataram oleh Susuhunan Amangkurat Agung menimbulkan curiga dan dendam dari pihak Cirebon.

Meskipun Mataram menyampaikan kepada dunia bahwa sang sultan wafat karena sakit, Cirebon sama sekali tidak percaya.

Pada tahun 1649, Cirebon melantik Pangeran Putra sebagai Sultan Cirebon ketiga dengan gelar Panembahan Ratu II. Sementara itu, tiga tahun sebelumnya, yakni tahun 1646, Kesultanan Mataram menobatkan Amangkurat I sebagai sultan menggantikan ayahnya, Sultan Agung.

Penobatan Amangkurat I sudah membuat gerah Cirebon. Pasalnya, ia naik takhta setelah menyingkirkan Pangeran Alit, putra Sultan Agung dari pernikahannya dengan putri Sultan Cirebon II (Panembahan Ratu I). Pangeran Alit pun tewas dalam kisruh perebutan kekuasaan pada tahun 1647.

Zaman Sultan Agung, Cirebon dan Mataram menjalin hubungan erat. Sultan Cirebon dijadikan mitra dan guru oleh Sultan Agung. Bahkan Sultan Agung menikahi putri Sultan Cirebon dan menganugerahinya gelar Ratu Kulon, yang keturunannya kelak dijanjikan menjadi Sultan Mataram.

Namun sejak Pangeran Alit terbunuh dan Amangkurat I naik takhta, relasi dua kerajaan memanas. Sebagai upaya meredakan ketegangan, Amangkurat I menikahkan putrinya dengan Pangeran Putra.

Namun ketika naik takhta, Pangeran Putra tidak menjadikan sang putri sebagai permaisuri mungkin sebagai bentuk kekecewaan terhadap Mataram.

Penghinaan dan Muslihat Politik

Amangkurat I dikenal menjalankan kekuasaan dengan tangan besi. Ia menghukum siapa pun yang berseberangan, termasuk kerabat sendiri. Dalam naskah Mertasinga, diceritakan ketika Panembahan Ratu II berkunjung ke Mataram, ia dipaksa duduk bersimpuh layaknya abdi di hadapan Amangkurat I.

Hal itu membuat murka para pembesar Cirebon, seperti Ki Arya Jagastaru, Arya Salingsingan, Ki Kanduruan, dan Ki Tandamuni Wanduhaji.

Mereka mengusulkan perlawanan, tetapi ditolak Panembahan Ratu II yang masih menjunjung amanat Sunan Kalijaga untuk menghormati Mataram.

Namun perlahan dendam Amangkurat I pada menantunya tidak bisa dibendung. Ia menyusun rencana membunuh Panembahan Ratu II ketika berkunjung ke Mataram. Karena kunjungan tak kunjung terjadi, ia pun meminta bantuan Belanda.

Menurut Naskah Mertasinga, misi penjemputan dipimpin oleh Kapten Etal dari Belanda. Dengan tipu muslihat, Panembahan Ratu II dibujuk untuk datang ke Mataram bersama dua putranya menggunakan kapal laut. Para pembesar Cirebon menyusul lewat jalur darat.

Kematian di Negeri Mertua

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB

Menghindari Kemacetan Puncak

Sabtu, 4 April 2026 | 10:40 WIB
X