Rahwana tak butuh alasan moral saat menculik Sinta. Ia tak perlu dalil, tak butuh restu dewa, apalagi restu rakyat. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa Alengka dan dirinya tak tersentuh. Bahwa ia adalah penguasa yang berhak memiliki segalanya, termasuk perempuan yang dicintai orang lain.
Maka perang pun pecah. Hutan berubah jadi medan pembantaian. Kejatuhan pun datang bukan karena kekuatan musuh semata, tapi karena kesombongan yang membuat Rahwana tak tahu kapan harus berhenti.
Seribu tahun kemudian, ambisi serupa masih terus hidup. Ia berganti wajah, menyamar sebagai pembangunan, stabilitas, bahkan kasih sayang pada rakyat. Tapi hakikatnya tetap sama: ketamakan yang membusuk di singgasana.
Kita mengenal watak itu dalam diri Duryudana. Pandawa, yang jelas memiliki hak atas separuh Hastinapura, dihalangi lewat permainan dadu. Duryudana tahu ia tak akan bisa menang secara jantan.
Maka kelicikan jadi senjata. Ia tipu, ia bujuk, ia buang para Pandawa ke rimba. Tapi kekuasaan yang dibangun di atas rasa takut selalu berdiri di atas pasir. Perang Bharatayudha adalah klimaks dari kerakusan.
Kurawa, yang merasa tak terkalahkan, tumbang satu per satu. Duryudana sendiri tewas dengan tubuh remuk, menyisakan istana kosong yang tak lagi memiliki pewaris.
Sejarah Islam pun menyimpan cermin retak yang sama. Setelah wafatnya Rasulullah, bara kekuasaan mulai menyala. Utsman dibunuh, Ali dipertikaikan, Muawiyah menantang.
Puncaknya, Yazid, cucu pendiri Dinasti Umayyah, menumpahkan darah cucu Nabi sendiri di padang Karbala. Husain, yang hanya menuntut kebenaran dan keadilan, dihancurkan atas nama stabilitas kekuasaan.
Islam berubah dari gerakan spiritual menjadi struktur kekuasaan dinasti. Rakyat menjadi penonton. Kebenaran menjadi barang mewah. Keadilan dikubur bersama para syuhada.
Kekuasaan, seperti secangkir kopi, selalu tampak memikat dari kejauhan. Hitamnya pekat, aromanya menusuk hidung, dan dari genggaman cangkirnya timbul rasa hangat yang menenangkan.
Tapi mereka yang terlalu menikmatinya tanpa batas, lupa: kopi bisa membuat gelisah, membuat jantung berpacu tanpa kendali, bahkan menyebabkan kecanduan yang sulit disembuhkan.
Begitu juga kekuasaan. Secukupnya ia bisa membuat stabilitas. Tapi saat terus ditenggak, tanpa jeda, tanpa refleksi, ia meracuni nurani.
Seperti peminum kopi yang terus menambah dosis demi mengejar rasa nikmat pertama yang tak pernah bisa diulang, para pemegang kekuasaan pun kerap terjebak mengejar euforia awal: sorak-sorai rakyat, iring-iringan pejabat, jabat tangan diplomatik, dan pujian dari sekeliling.
Tapi rasa manis itu tak bertahan lama. Yang tersisa hanya kegelisahan yang mendalam: bagaimana jika harus berhenti? Bagaimana jika cangkir itu diambil orang lain?
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Dengan Kata (Bagian 1860)
Redi Supriadi Raih Dukungan Terbanyak, Resmi Jabat Ketua Karang Taruna Cipetir
Konspirasi Kebohongan
Esensi Berkurban Terhadap Hakikat Sifat Manusia
Ketika 'Visa Langit' Tertutup, Impian Haji Furoda Ratusan Juta Rupiah Pupus
Mutiara Pagi: Berguru pada Orang Gila (Bagian 1861)
Hasbiallah Ilyas Minta Kejagung Jaga Proporsionalitas dalam Tangani Kasus Korupsi
Mahasiswa UNPI Cianjur, Haidar Ali, Gagas Program “Obras Barabe”: Obrolan Santai Bareng Orang Hebat dari Berbagai Kalangan
Bupati Hadiri Rakor Antikorupsi dan Penandatanganan Nota Kesepakatan di Gedung Pakuan, Wabup Tinjau Operasi Pasar Murah
Korupsi Berjamaah APBD