Kekuasaan, Kopi, dan Nafsu yang Tak Pernah Kenyang

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 5 Juni 2025 | 12:35 WIB
Ilustrasi kopi, kedai, cerpen Indonesia. (MetaAI)
Ilustrasi kopi, kedai, cerpen Indonesia. (MetaAI)

Rahwana tak butuh alasan moral saat menculik Sinta. Ia tak perlu dalil, tak butuh restu dewa, apalagi restu rakyat. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa Alengka dan dirinya tak tersentuh. Bahwa ia adalah penguasa yang berhak memiliki segalanya, termasuk perempuan yang dicintai orang lain.

Maka perang pun pecah. Hutan berubah jadi medan pembantaian. Kejatuhan pun datang bukan karena kekuatan musuh semata, tapi karena kesombongan yang membuat Rahwana tak tahu kapan harus berhenti.

Seribu tahun kemudian, ambisi serupa masih terus hidup. Ia berganti wajah, menyamar sebagai pembangunan, stabilitas, bahkan kasih sayang pada rakyat. Tapi hakikatnya tetap sama: ketamakan yang membusuk di singgasana.

Kita mengenal watak itu dalam diri Duryudana. Pandawa, yang jelas memiliki hak atas separuh Hastinapura, dihalangi lewat permainan dadu. Duryudana tahu ia tak akan bisa menang secara jantan.

Maka kelicikan jadi senjata. Ia tipu, ia bujuk, ia buang para Pandawa ke rimba. Tapi kekuasaan yang dibangun di atas rasa takut selalu berdiri di atas pasir. Perang Bharatayudha adalah klimaks dari kerakusan.

Kurawa, yang merasa tak terkalahkan, tumbang satu per satu. Duryudana sendiri tewas dengan tubuh remuk, menyisakan istana kosong yang tak lagi memiliki pewaris.

Sejarah Islam pun menyimpan cermin retak yang sama. Setelah wafatnya Rasulullah, bara kekuasaan mulai menyala. Utsman dibunuh, Ali dipertikaikan, Muawiyah menantang.

Puncaknya, Yazid, cucu pendiri Dinasti Umayyah, menumpahkan darah cucu Nabi sendiri di padang Karbala. Husain, yang hanya menuntut kebenaran dan keadilan, dihancurkan atas nama stabilitas kekuasaan.

Islam berubah dari gerakan spiritual menjadi struktur kekuasaan dinasti. Rakyat menjadi penonton. Kebenaran menjadi barang mewah. Keadilan dikubur bersama para syuhada.

Kekuasaan, seperti secangkir kopi, selalu tampak memikat dari kejauhan. Hitamnya pekat, aromanya menusuk hidung, dan dari genggaman cangkirnya timbul rasa hangat yang menenangkan.

Tapi mereka yang terlalu menikmatinya tanpa batas, lupa: kopi bisa membuat gelisah, membuat jantung berpacu tanpa kendali, bahkan menyebabkan kecanduan yang sulit disembuhkan.

Begitu juga kekuasaan. Secukupnya ia bisa membuat stabilitas. Tapi saat terus ditenggak, tanpa jeda, tanpa refleksi, ia meracuni nurani.

Seperti peminum kopi yang terus menambah dosis demi mengejar rasa nikmat pertama yang tak pernah bisa diulang, para pemegang kekuasaan pun kerap terjebak mengejar euforia awal: sorak-sorai rakyat, iring-iringan pejabat, jabat tangan diplomatik, dan pujian dari sekeliling.

Tapi rasa manis itu tak bertahan lama. Yang tersisa hanya kegelisahan yang mendalam: bagaimana jika harus berhenti? Bagaimana jika cangkir itu diambil orang lain?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Seni Membangun Kepercayaan Diri di Atas Panggung

Selasa, 2 Juni 2026 | 07:44 WIB
X