Idul Fitri 1446 Hijriyah dan Kelesuan Ekonomi Indonesia

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 1 April 2025 | 14:26 WIB
Ilustrasi idul Fitri 2025. (unsplash.com/@mufidpwt)
Ilustrasi idul Fitri 2025. (unsplash.com/@mufidpwt)

Oleh: Jamiludin (Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Kebijakan Daerah & Pusat)

Idul Fitri 1446 Hijriyah kali ini terasa sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada tahun lalu, suasana lebaran dipenuhi dengan kemacetan arus mudik yang merayap di jalanan nasional, regional, hingga lokal, tahun ini suasana mudik tampak lebih lengang.

Hal ini mungkin disebabkan oleh kondisi keuangan yang terbatas atau tunjangan hari raya (THR) dari perusahaan dan pemerintah yang tidak cukup untuk mendukung perjalanan mudik.

Suasana serupa juga terlihat di pasar modern dan tradisional. Jika sebelumnya, meski baru saja selesai pemilu, pasar selalu ramai dengan pembeli yang berburu kebutuhan lebaran seperti baju baru, sandal baru, sepatu baru, sarung, kupiah baru, serta daging ayam untuk opor dan ketupat, tahun ini suasana pasar tampak lebih sepi.

Banyak orang mungkin memilih untuk lebih "hemat" dalam belanja kebutuhan lebaran, mengingat kondisi ekonomi yang tidak begitu baik.

Fenomena ini sempat viral di media sosial, dengan banyak orang yang mengungkapkan bahwa "lebaran tahun ini tidak ada yang spesial, menyesuaikan keadaan dan keuangan. Cukup untuk zakat fitrah saja yang terpenuhi, sudah alhamdulillah."

Tahun lalu, tradisi bagi-bagi sarung dan sembako untuk fakir miskin sangat marak, tetapi tahun ini hampir tidak ada sama sekali.

Gambaran tersebut sangat kontras dengan pernyataan Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Panjaitan, yang terkesan terperangah dengan dampak MBG (Mobilisasi Barang dan Jasa) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Luhut mengklaim bahwa MBG memberikan efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penurunan kemiskinan.

"Kita semua terperangah melihat dampak MBG ini memang luar biasa terhadap pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, ekosistem yang terbangun dari ekonomi, dan penurunan kemiskinan," ujar Luhut dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Kamis (20/3/2025).

Selain itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga optimistis bahwa bulan Ramadan dan libur lebaran 2025 akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, aktivitas ekonomi di berbagai daerah tujuan mudik akan meningkat, yang pada akhirnya turut mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

“Moga-moga baik, ini akan meningkatkan aktivitas ekonomi di semua daerah, terutama di tempat tujuan mudik, sehingga dampak ekonomi daerah menjadi positif,” kata Sri Mulyani kepada awak media usai melaksanakan shalat Id di Masjid Salahuddin, yang terletak di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak), Kementerian Keuangan, Senin (31/3).

Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga menyatakan bahwa tingginya konsumsi rumah tangga pada momen Lebaran 2025 diperkirakan akan mengerek laju perekonomian sebesar 5% pada kuartal I-2025.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Bidang Pengembangan Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menyatakan bahwa pemerintah berupaya menggenjot konsumsi rumah tangga melalui berbagai stimulus, seperti penyaluran bansos, diskon harga tiket pesawat, diskon tarif tol, diskon belanja, serta stabilisasi harga pangan dan pencairan THR bagi ASN, pekerja swasta, hingga bonus untuk driver transportasi online.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB

Menghindari Kemacetan Puncak

Sabtu, 4 April 2026 | 10:40 WIB
X