Bung Karno masih berusaha untuk kembali berkuasa dalam arti yang sesungguhnya. Pembentukan Kabinet Dwikora II adalah salah satu upaya untuk kembali mengambil kekuasaan itu.
Tentu ada pihak yang tidak ingin Bung Karno mendapatkan kekuasaannya lagi. Ejekan "Kabinet 100 Menteri" adalah salah satu cara untuk "merusak" nama baik kabinet itu --kebetulan memang banyak yang namanya tidak baik.
Akhirnya kabinet 100 Menteri tersebut memang tidak bisa bekerja --tidak punya waktu.
Ketika kali pertama akan dilakukan sidang kabinet, banyak menteri tidak bisa masuk istana.
Ada yang ditangkap. Ada yang dihambat.
Yang sudah berhasil masuk Istana pun kabur. Terbirit-birit.
Soebandrio sampai lari tidak pakai sepatu --ketinggalan di ruang sidang.
Di Monas, depan Istana, sudah penuh dengan tentara. Dihembuskan kabar yang tidak jelas: istana akan diduduki.
Bung Karno diungsikan ke Istana Bogor. Selebihnya Anda sudah tahu: di Bogor Bung Karno didatangi tiga jenderal.
Keluarlah yang di sekolah Anda baca bukunya: Supersemar. Surat Perintah 11 Maret. Bung Karno menunjuk Pak Harto untuk mengatasi keamanan dan ketertiban masyarakat.
Itulah perintah yang membuat Bung Karno sendiri tidak aman.
Kekuatan yang anti Soekarno sebenarnya masih besar. Pasukan "hidup-mati nderek Bung Karno" juga sangat besar. Jauh lebih besar dari Pasukan Berani Mati yang gak jadi bergerak bulan lalu.
Semua sudah jadi sejarah.
Sebagian tetap jadi pelaku sejarah.
Kita tunggu pengumuman susunan kabinet baru sebentar sore. Dulu-dulu calon menteri dipanggil setelah presiden terpilih dilantik. Tepatnya, ditelepon.
Artikel Terkait
Waktu - Waktu Mustajabnya Do'a (Bagian 02)
Mutiara Pagi: Kritik (Bagian 1645)
Melihat Fasilitas Terbaru Kereta Jayabaya Rute Malang-Pasarsenen
Bangga! Siswi SMAN 1 Sumedang Raih Emas pada Olimpiade Sains Nasional 2024
Antara Usaha dan Keyakinan
Waktu - Waktu Mustajabnya Do'a (Bagian 03)
Alwi Novi
Kisah Kewafatan Sunan Kalijaga
Sambut Baik Kehadiran Komite sebagai Amanat Perpres 32 Tahun 2024, Perusahaan Platform Digital Dukung Iklim Jurnalisme Berkualitas
Mutiara Pagi: Belenggu Logika (Bagian 1646)