Menyusun kabinet memang tidak mudah. Pun kalau penyusunan itu diserahkan ke Anda. Harus punya banyak pertimbangan.
Semua suku besar harus diwadahi.
Semua golongan terwakili.
Semua aliran tertampung.
Semua agama.
Semua profesi.
Orang luar dan dalam. Musuh apalagi kawan. B
atak dan Dayak.
Pribumi nonpribumi.
Tua muda.
Pusing.
Yang selalu ada sejak dulu: Jawa, Sunda, Batak, Minang, Makassar, Aceh, Bali, dan NTT. Di kabinet apa pun. Presiden siapa pun.
Pun ketika Bung Karno membentuk "Kabinet 100 Menteri". Banyaknya menteri bertujuan untuk merangkul sebanyak mungkin spektrum.
Waktu itu bangsa lagi terancam pecah: pro Soekarno dan anti Soekarno. Itu akibat peristiwa G30S/PKI yang terjadi tiga atau empat bulan sebelumnya.
Bung Karno saat itu masih menjabat presiden tapi praktis tidak punya kekuasaan. Perintahnya tidak didengar. Keputusannya tidak dijalankan. Di lapangan Pak Hartolah yang berkuasa --dengan pangkat "hanya" mayor jenderal tapi mengendalikan tentara sepenuhnya.
Artikel Terkait
Waktu - Waktu Mustajabnya Do'a (Bagian 02)
Mutiara Pagi: Kritik (Bagian 1645)
Melihat Fasilitas Terbaru Kereta Jayabaya Rute Malang-Pasarsenen
Bangga! Siswi SMAN 1 Sumedang Raih Emas pada Olimpiade Sains Nasional 2024
Antara Usaha dan Keyakinan
Waktu - Waktu Mustajabnya Do'a (Bagian 03)
Alwi Novi
Kisah Kewafatan Sunan Kalijaga
Sambut Baik Kehadiran Komite sebagai Amanat Perpres 32 Tahun 2024, Perusahaan Platform Digital Dukung Iklim Jurnalisme Berkualitas
Mutiara Pagi: Belenggu Logika (Bagian 1646)