Namun ia enggan melekatkan marga itu pada namanya.
Semua anak-anaknya juga tidak ada yang mencantumkan marga Batubara pada nama mereka.
Aku sempat bercanda, “ Bang, kalau abang tinggal di Sumut, pasti abang sudah dimarahi para tokoh adat di sini. Harusnya dipakailah marga itu,”
Faisal menjawab santai, “Aku tak mau marga itu terlalu diobral murah. Biarkan dia melekat pada darah dan sejarah. Tapi semua anak saya tahu kalau kami adalah Batubara asal Mandaling,” katanya.
Saat asyik berbincang, Faisal Basri beberapa kali terlihat mengeluhkan perutnya yang terasa sakit.
Bahkan ia sempat tertidur di kursi seraya tangannya bersender di atas handle koper yang ada di sampingnya.
Saya dan Irmansyah tidak berani mengganggu lagi.
Tanda-tanda kelelahan terlihat jelas pada wajah dan fisiknya.
Selang 10 menit kemudian ia terbangun dari tidurnya.
Kami pun tak mau mengajaknya berbicara panjang lebar lagi karena waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB.
Sementara pesawatnya akan berangkat ke Jakarta pada pukul 16.44 WIB.
“Bang, sebaiknya kita berangkat sekarang saja. Yuk kami antar ke stasion kereta,” ujar Irmansyah.
Kami pun beranjak menuju mobil yang parkir di belakang.
Aku terpaksa harus memegang kopernya karena Faisal Basri terlihat agak kesulitan berjalan.
Sesampai di gerbang stasion di Jalan Jawa, aku segera meminta satpam mengawalnya naik ke atas.
Artikel Terkait
Pragmatisme: Ideologi Baru Partai-Partai di Indonesia
Glenn Victor Susanto Wakili Indonesia ke Ajang Mister International 2024
Karena Lisan Seseorang Bisa Masuk Surga atau Neraka
Revolusi Kreativitas Bersama Artificial Intelligence (1)
Mutiara Pagi: Yang Maha Ghaib (Bagian 1604)
Prodi BKI FDK UIN Bandung Fokus Cetak Mahasiswa Unggul dan Kompetitif Berbasis Rahmatan Lil Alamin
KRI Pattimura-371 Uji Coba Penembakan
Kesulitan Akan Dimudahkan
Miss Cosmo Indonesia 2024 Kenakan Pakaian Filosofi "The Endless Stream of Saraswati Goddess"
Mutiara Pagi: Yang Maha Memerintah (Bagian 1605)