Oleh: Ahmady Meuraxa
Ketika mendengar ia sedang berada di Medan pada Sabtu 31 Agustus lalu, aku bersama sahabat Irmansyah Lubis lantas menyambanginya ke Hotel JW Marriot untuk berdiskusi berbagai hal soal kebangsaan.
Kala itu kondisi kesehatan Faisal Basri terlihat cukup menurun.
Saat berjalan dari lift menuju lobby, ia sempat sempoyongan.
Hampir saja terjatuh, tapi ia tetap berusaha tegak.
Rencananya kami akan mengajak ia menikmati masakan khas Medan di kawasan kota.
Tapi karena kesehatannya tidak mendukung,
Ia meminta sebaiknya ngobrol di restoran hotel saja.
“Mata saya agak kabur. Saya malah sempat kehilangan orientasi saat turun dari lift tadi.
Saya kira hari sudah malam, tak taunya masih siang,” ujarnya.
Faisal turun dari kamarnya seraya membawa koper dan rangsel karena akan segera berangkat siang itu kembali ke Jakarta.
“Nanti antar saya ke stasion kereta ya,” ujarnya.
“Tenang bang, kami antar langsung ke Bandara Kualanamu saja,” ujarku.
“Nggak usah, saya lebih suka naik kereta. Lebih pasti, lebih santai,” katanya.
Kami pun sempat berbincang ringan di restoran sambil menikmati lontong ala JW Marriot yang tentu saja tidak seenak lontong di pinggir jalan.
Artikel Terkait
Pragmatisme: Ideologi Baru Partai-Partai di Indonesia
Glenn Victor Susanto Wakili Indonesia ke Ajang Mister International 2024
Karena Lisan Seseorang Bisa Masuk Surga atau Neraka
Revolusi Kreativitas Bersama Artificial Intelligence (1)
Mutiara Pagi: Yang Maha Ghaib (Bagian 1604)
Prodi BKI FDK UIN Bandung Fokus Cetak Mahasiswa Unggul dan Kompetitif Berbasis Rahmatan Lil Alamin
KRI Pattimura-371 Uji Coba Penembakan
Kesulitan Akan Dimudahkan
Miss Cosmo Indonesia 2024 Kenakan Pakaian Filosofi "The Endless Stream of Saraswati Goddess"
Mutiara Pagi: Yang Maha Memerintah (Bagian 1605)