Revolusi Kreativitas Bersama Artificial Intelligence (1)

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 5 September 2024 | 14:00 WIB
AI Senjata Baru Caleg untuk Kampanye, AS dan Inggris Punya Taktik Jitu, Indonesia Gak Kalah Keren (@gettysignature)
AI Senjata Baru Caleg untuk Kampanye, AS dan Inggris Punya Taktik Jitu, Indonesia Gak Kalah Keren (@gettysignature)

Oleh: Denny JA

“Itu adalah sebuah deklarasi. Dunia kreativitas sudah bergeser. Kita memasuki bab terakhir berkarya tanpa sentuhan Artificial Intelligence. Peradaban, termasuk dunia kreativitas, memasuki babak baru.

Itu yang saya katakan kepada wartawan, kolega, dan publik luas, ketika mereka bertanya. Apa arti penting pameran lukisan saya (Denny JA) di Galeri Nasional, Festival Toleransi, 2-4 September 2024, menyambut kedatangan Paus Fransiskus ke Jakarta.

Pameran lukisan itu cukup menarik perhatian tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat dan publik luas. Tak hanya Menteri Koordinator MPK Muhajir Effendi dan 12 Duta Besar berfoto di depan lukisan itu. Tapi juga Ibu Sinta Nuriyah, istri Gus Dur, dan tokoh pro- keberagaman lain berpose di depan lukisan itu. (1)

Lukisan soal Paus Fransikus yang dihadirkan pada Festival Toleransi tidak hanya menyuarakan pesan mendalam tentang kerendahan hati dan keberagaman Paus Fransiskus.

Tetapi yang jauh lebih mendasar lagi, dan efeknya jangka panjang, ia menandai hadirnya artificial intelligence sebagai mitra dalam proses kreatif.

Melibatkan AI dalam penciptaan seni tidak hanya sekadar sebuah tren. Itu penanda dari revolusi proses kreatif.

Pada tahun 2021, dunia seni visual mengalami kejutan besar ketika sebuah lukisan yang dihasilkan oleh AI terjual seharga $432.500 di rumah lelang Christie’s. Lukisan berjudul “Portrait of Edmond de Belamy"

ini tidak dilukis oleh tangan manusia, melainkan diciptakan oleh sebuah algoritma yang dikembangkan oleh kolektif seni Paris, Obvious. AI yang mereka gunakan adalah Generative Adversarial Network (GAN), sebuah model yang dilatih menggunakan ribuan potret dari periode Renaisans hingga kontemporer.

Momen ini tidak hanya menandai pencapaian baru dalam teknologi, tetapi juga memicu perdebatan tentang masa depan seni dan peran manusia dalam proses kreatif. Kasus ini dapat dilacak lebih lanjut melalui artikel di [The Verge](https://www.theverge.com/2018/10/25/18022906/ai-art-portrait-edmond-de-belamy-auction-christies).

Fenomena ini menggarisbawahi salah satu pertanyaan mendasar dalam dunia seni: Apakah seni yang diciptakan oleh AI dapat dianggap sebagai karya seni sejati?

Apakah teknologi dapat menggantikan intuisi, emosi, dan sentuhan manusia dalam menciptakan sesuatu yang benar-benar orisinal?

Seni visual, sepanjang sejarahnya, selalu menjadi cerminan dari jiwa manusia—ekspresi terdalam dari pengalaman, pemikiran, dan emosi kita.

Dari lukisan gua di Lascaux hingga karya abstrak Jackson Pollock, seni telah menjadi medium untuk memahami dan menginterpretasikan dunia di sekitar kita. Namun, dengan munculnya AI dalam proses kreatif, batas-batas antara seniman dan mesin mulai kabur.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB

Menghindari Kemacetan Puncak

Sabtu, 4 April 2026 | 10:40 WIB
X