Ketua PBNU Masa Depan: Menjaga Akar Rumput, Merajut Jejaring Dunia

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Sabtu, 6 Juni 2026 | 06:55 WIB
Kantor PBNU di Jakarta. (nu.or.id)
Kantor PBNU di Jakarta. (nu.or.id)

JOURNALNUSANTARA.COM - Tulisan Saudara Dr Ahmad Fathur Rozi, memiliki pesan yang kuat tentang pentingnya kerja nyata, kedekatan dengan umat, dan penguatan agenda-agenda domestik NU.

Namun, jika ingin lebih berimbang, ada beberapa catatan kritis

Pertama, penekanan pada kedekatan dengan akar rumput dan fokus pada persoalan domestik memang sangat penting. Akan tetapi, pada era global saat ini, kepemimpinan NU tidak cukup hanya berorientasi ke dalam. Sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, NU juga memikul tanggung jawab moral dan intelektual di tingkat internasional.

Karena itu, kemampuan Ketua PBNU membangun jejaring global, berdialog dengan berbagai bangsa, memperkenalkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat, serta memperjuangkan perdamaian dunia juga merupakan kebutuhan strategis. Hubungan internasional tidak seharusnya dipertentangkan dengan penguatan pesantren dan pelayanan umat. Justru keduanya perlu berjalan beriringan.

Kedua, perlu diingat bahwa banyak tantangan domestik NU saat ini memiliki dimensi global. Perkembangan teknologi digital, ekonomi syariah, perubahan iklim, pendidikan, hingga arus pemikiran keagamaan lintas negara tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan lokal. Pemimpin NU masa depan idealnya mampu menghubungkan kekuatan tradisi pesantren dengan jaringan pengetahuan dan kerja sama internasional sehingga manfaatnya kembali dirasakan oleh warga Nahdliyin di tingkat bawah.

Ketiga, tulisan tersebut menegaskan pentingnya pemimpin yang sederhana. Pesan ini sangat relevan karena kesederhanaan merupakan karakter para muassis NU. Namun, kesederhanaan tidak selalu identik dengan penampilan lahiriah semata. Dalam konteks organisasi modern, kesederhanaan juga berarti tidak berlebihan dalam menggunakan fasilitas, tidak menjadikan jabatan sebagai alat pencitraan, serta tetap mudah diakses oleh warga meskipun memiliki pergaulan nasional maupun internasional yang luas.

Seorang pemimpin bisa saja aktif di forum dunia, bertemu kepala negara dan tokoh internasional, tetapi tetap sederhana dalam gaya hidup dan tetap dekat dengan kiai kampung, santri, serta warga biasa.

Keempat, ukuran kepemimpinan yang ideal mungkin bukan sekadar "banyak bekerja" atau "banyak tampil di tingkat global", melainkan kemampuan menyeimbangkan keduanya. Ketua PBNU yang baik adalah pemimpin yang mampu mengangkat martabat NU di panggung dunia sekaligus memastikan manfaatnya kembali kepada pesantren, madrasah, masjid, dan masyarakat akar rumput. Global dalam wawasan, tetapi tetap membumi dalam pengabdian.

Dengan demikian, Muktamar NU 2026 tidak semata-mata membutuhkan pemimpin yang fokus pada urusan domestik ataupun pemimpin yang berorientasi internasional. Yang dibutuhkan adalah sosok yang mampu menjembatani keduanya: menguatkan pesantren dan warga Nahdliyin di dalam negeri, sekaligus menjadikan NU semakin diperhitungkan sebagai kekuatan peradaban Islam dan kemanusiaan di tingkat global.

Sebab NU yang kuat di dunia hanya dapat lahir dari NU yang kuat di akar rumput, dan penguatan akar rumput pada era modern juga memerlukan kemampuan membangun jejaring dunia.

Ringkasnya: pemimpin NU ideal adalah pemimpin yang sederhana dalam hidupnya, luas dalam pergaulannya, kuat dalam kerja organisasinya, dan seimbang antara pengabdian domestik serta diplomasi internasionalnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB
X