Oleh: Unang Margana
Kadang pagi, siang, sore, dan malam, di beberapa komunitas, diantaranya Balai RT/RW dan Planet M11, suara ubin meja gapleh beradu keras: "tok-tok-tok". Di sudut lain, dua kakek beradu pikiran lewat bidak catur.
Di dapur, aroma nasi liwet santan wangi daun salam bikin perut keroncongan. Di teras, emak-emak senam lansia bareng pemuda karang taruna. Itu bukan festival. Itu rutinitas manula di kampung saya. Sederhana, tapi menyelamatkan.
Seringkali kita sibuk bicara "penuaan sehat" dengan gym mahal, suplemen impor, dan rumah jompo ber-AC. Padahal obat paling mujarab buat manula seringnya ada di serambi rumah: main, ngobrol, makan bareng, dan gerak ringan.
Gapleh, catur, nasi liwet, terapi manula. Empat kata itu kalau dirangkai jadi resep panjang umur yang jarang ditulis dokter. Masalahnya, resep ini mulai ditinggal. Manula kita makin banyak, tapi ruang buat mereka makin sempit.
BPS 2024 mencatat penduduk lansia Indonesia mencapai 11,75% dari total populasi, atau sekitar 32 juta jiwa. Tahun 2045 diprediksi melonjak jadi 19,9%. Kita sedang menuju "super-aged society". Tapi kesiapan kita? Masih seumur jagung.
Secara hukum, negara sudah punya definisi jelas. UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia menyebut: "Lanjut Usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas".
UU ini juga membagi lansia jadi dua: "potensial" yang masih produktif, dan "tidak potensial" yang butuh perlindungan. Artinya, saat seseorang menginjak usia 60 tahun, negara wajib hadir.
Bukan lewat belas kasihan, tapi lewat pemenuhan hak: kesehatan, pekerjaan, fasilitas umum, dan rasa aman. Masalahnya, definisi sudah ada sejak 1998, tapi meja gapleh di balai RW masih lebih sepi daripada antrean BPJS.
Beberapa permasalahan manula di antaranya adalah:
1. Kesepian adalah penyakit mematikan. Anak merantau, cucu sibuk gawai. Manula di rumah cuma nonton TV seharian. Penelitian bilang kesepian kronis risikonya setara merokok 15 batang sehari, menjadi pemicu stroke, demensia, hingga depresi.
Solusinya: Kembalikan olahraga sosial. Gapleh dan catur bukan judi atau buang waktu, melainkan senam otak. Menghitung kartu, memikirkan strategi, dan mengatur emosi saat kalah. Sekaligus menjadi ruang mengobrol, ketawa, berantem kecil, lalu baikan. Satu meja gapleh sama dengan 3 jam terapi mental gratis. Pemda dan RT/RW wajib menyediakan meja, kursi, dan lampu terang di balai. Murah, tapi efeknya luar biasa ke jiwa.
2. Badan kaku dan gizi berantakan. Banyak manula takut makan karena diabetes atau asam urat. Ujungnya mereka kekurangan protein, otot menyusut, dan gampang jatuh. Senam lansia 15 menit juga banyak yang malas dengan dalih pasrah pada usia.
Solusinya: Nasi liwet dan terapi gerak ringan. Manula tidak butuh diet ketat ala artis, melainkan makan enak tapi cerdas. Nasi liwet lauk tempe, ikan, dan sayur urap lebih menggoda daripada bubur hambar. Makan bareng itu sendiri adalah terapi: nafsu makan naik, gula darah lebih stabil karena mengobrol membuat pikiran santai. Habis makan, jangan langsung tidur. Ajak jalan 10 menit atau senam therafis manula alias terapi fisik sederhana seperti menggerakkan tangan, menekuk lutut, dan memutar bahu. Tidak perlu alat, yang penting rutin. Karang Taruna bisa mengambil peran sebagai pelatih sukarela.
3. Manula dianggap beban, bukan aset. Banyak keluarga mengungsikan orang tua ke pojok rumah dengan alasan klasik bahwa mereka sudah pikun dan tidak mengerti zaman. Padahal, manula adalah gudang cerita, sejarah hidup, dan penengah konflik di lingkungan.
Artikel Terkait
Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Evaluasi Bangsa, PC PMII Cianjur Serukan Penguatan Nilai Kebangsaan
Indonesia, Negara Kepulauan Alpa Peradaban Maritim
Puncak Spiritualitas: Tazkiyatun Nafs dan Terwujudnya Harmoni Sosial
Mutiara Pagi: Ikhtiar (Bagian 2230)
Korupsi Merajalela di Tengah Program Makan Bergizi Gratis
Mutiara Pagi: Dalam Genggaman Takdir (Bagian 2231)
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Menemukan Bahagia dalam Kesederhanaan (Bagian 42)
Menghancurkan Benalu Korupsi
Merajut Keadilan, Mengikis Kolusi
Meruntuhkan Tembok Nepotisme