Solusinya: Berikan panggung dan peran. Kakek yang jago catur bisa dijadikan pelatih catur anak-anak. Nenek yang masak liwetnya paling enak bisa dijadikan mentor PKK. Manula yang merasa berguna akan hidup lebih sehat 10 tahun lebih lama. Pemerintah cukup membuat program "Manula Mengajar" 1 jam seminggu di sekolah untuk mengajarkan aksara daerah (Sunda, Jawa, dll), permainan tradisional, atau cerita perjuangan. Dua generasi akan sama-sama untung.
Kunci dari seluruh permasalahan di atas terhadap manula hanya satu: jangan sekali-kali memperlakukan manula seperti barang pecah belah. Perlakukan mereka seperti perpustakaan berjalan. Rapuh iya, tapi isinya berharga dan luar biasa.
Penutup
Negara maju diukur dari sejahteranya anak muda. Negara beradab diukur dari mulianya manula. Kita tidak perlu menunggu BPJS menanggung semua atau menunggu rumah sakit lansia berdiri di tiap kecamatan. Mulai dari yang paling dekat: sediakan meja gapleh, papan catur, periuk nasi liwet, dan sisihkan 30 menit waktu untuk menemani bapak-ibu kita bergerak.
Gapleh melatih otak biar tidak pikun. Catur mengajarkan sabar. Nasi liwet bikin perut dan hati hangat. Therafis manula menjaga otot biar tidak cepat rapuh. Empat hal remeh, tapi kalau hilang, manula kita cepat pensiun dari hidup.
Pesan untuk anak muda, ingatlah: tua itu pasti, jompo itu pilihan. Dan pilihan itu kita putuskan hari ini, lewat cara kita memperlakukan manula di sekitar kita. Biar nanti saat giliran kita duduk di balai RW, masih ada yang mau mengajak main gapleh, bukan mengantar ke panti jompo.
Cianjur, 5 Juni 2026
Pemerhati sosial di Bengkel Politik Cianjur (BPC)
Artikel Terkait
Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Evaluasi Bangsa, PC PMII Cianjur Serukan Penguatan Nilai Kebangsaan
Indonesia, Negara Kepulauan Alpa Peradaban Maritim
Puncak Spiritualitas: Tazkiyatun Nafs dan Terwujudnya Harmoni Sosial
Mutiara Pagi: Ikhtiar (Bagian 2230)
Korupsi Merajalela di Tengah Program Makan Bergizi Gratis
Mutiara Pagi: Dalam Genggaman Takdir (Bagian 2231)
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Menemukan Bahagia dalam Kesederhanaan (Bagian 42)
Menghancurkan Benalu Korupsi
Merajut Keadilan, Mengikis Kolusi
Meruntuhkan Tembok Nepotisme