Ketawadhuan Prof Quraish Shihab dan KH Afifuddin Muhajir

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 11 Juli 2024 | 08:00 WIB
Prof Quraish Shihab dan KH Afifuddin Muhajir
Prof Quraish Shihab dan KH Afifuddin Muhajir

Oleh: Gus Ahmad Husain Fahasbu

Suatu waktu, Prof Quraish Shihab pernah diminta untuk menulis buku tentang Sirah Nabi. Beliau menolak dan mengatakan bahwa itu bukan keahliannya.

Keahlian saya, ujar lulusan al-Azhar ini, adalah tafsir al-Quran. Akhirnya beliau terpaksa menulis sirah nabi tapi berbasis pada ayat-ayat al-Quran.

Begitupula Kiai Afifuddin Muhajir. Tidak terhitung berapa kali beliau menolak diundang sebuah acara alasannya karena tema yang dibahas bukan keahliannya.

Suatu waktu ada panitia minta saya untuk bantu bujuk wakil Rais Aam tersebut agar beliau mau. Tapi beliau tetap tidak berkenan dengan alasan, "Saya tidak paham dengan tema acaranya".

Kata Imam Malik:

من فقه العالم أن يقول لا أعلم
Termasuk "fikihnya" orang alim adalah mengatakan "Aku tidak tahu".

Dalam kesempatan lain, al-Sya'bi mengatakan:

لا أدري نصف العلم
"Aku tidak tahu" adalah separuh dari ilmu.

Suatu ketika al-Sya'bi ditanya sebuah persoalan dan beliau menjawab tidak tahu. Tampak kaget, orang di dekatnya berkata: Apakah kamu tidak malu berkata seperti itu? Ulama besar ini menjawab:

ولِمَ أستحي مما لم تَستَحِ الملائكة منه، حين قالت: (لَا عِلْمَ لَنَا إلَّا مَا عَلَّمْتَنَا)

"Kenapa aku perlu malu untuk hal yang Malaikat saja tidak malu. Bukankah mereka pernah berkata dan terekam dalam al-Quran: kami tidak memiliki pengetahuan kecuali ilmu yg Allah ajarkan.

Dikatakan bahwa:

الصحابة كانوا يتدافعون أربعةَ أشياء؛ الإمامةَ، والوصيةَ، والوديعةَ، والفُتْيَا

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X