Diskusi Sehat, Bukan Caci Maki

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 9 Juli 2024 | 12:00 WIB
Ilustrasi diskusi tentang contoh Soal Asesmen Kompetensi Guru (DALL-E )
Ilustrasi diskusi tentang contoh Soal Asesmen Kompetensi Guru (DALL-E )

Oleh: KH Fahrul Rozi

Fenomena caci maki dan fitnah dari satu orang ke orang lain saat ini sudah merupakan pemandangan sehari-hari yang kita temui di media sosial, khususnya soal polemik nasab habaib yang semakin hari semakin tidak sehat.

Para pembenci sudah tidak ada logika ilmiah kecuali mereproduksi argumen junjungannya dengan bumbu caci maki yg sangat liar. Padahal, secara tegas Islam sendiri melarang kepada umatnya untuk melakukan caci maki dan fitnah.

Sikap santun dalam berdialog, lemah lembut dalam berbicara, halus dalam penyampaian pesan, merupakan jalan tengah yang akan membuat orang lain simpati.

Apalagi kita sebagai warga negara Indonesia yang terkenal memiliki budaya santun berakhlak dan beradab dalam berdiskusi sebagai santri dan orang terpelajar.

Kata kasar dan sarkas tidak akan dapat membuat seseorang menjadi tertarik, justru hati yang bercerai berai dan pendapat yang berbeda akan dapat terangkul dengan harmonis dengar tutur kata yang lembut dan penuh kesopanan walaupun beda keyakinan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berpesan kepada Nabi Musa dan Harun ’alaihimassalam:
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia menjadi sadar atau takut.” (QS. Thaha: 44).

Ibnu Katsir rahimahullah ketika mengomentari ayat ini berkata, ada pelajaran sangat berharga yang dapat dipetik dari ayat di atas, yaitu bahwa Fir’aun yang terkenal keangkuhan dan arogansinya.

Sementara Musa alaihissalam sebaik-baik manusia pilihan Allah saat itu, namun demikian Allah memerintahkannya untuk tidak berbicara dengan Fir’aun kecuali dengan perkataan yang santun dan lemah lembut.

Manusia yang suka mencela, mengutuk, mengejek dan berkata keji, bukanlah tipe manusia beriman. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukanlah pencela, pengecam dan pengutuk.

Sabda beliau: “Sesunguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, tetapi aku diutus hanyalah sebagai rahmat.” Beliau pun bersabda: “Mencaci maki seorang Muslim adalah suatu kefasikan”.

Marilah budayakan diskusi ilmiah dgn akal sehat dan tanpa narasi kebencian , berbeda pendapat itu soal yang biasa dalam tradisi keilmuan namun tidak perlu diikuti dengan adu domba dan fitnah sesama ummat Islam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X