Ketawadhuan KH Miftachul Akhyar

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 10 Juli 2024 | 08:00 WIB
KH Miftahul Akhyar saat mengantakan cucunya
KH Miftahul Akhyar saat mengantakan cucunya

Kemarin Rais Aam PBNU mengantar cucu beliau budal mondok di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan.

Etos seorang kakek yang juga kyai beliau tunjukkan dengan cara paling kongkrit, yaitu mengantar sendiri dan menyupir sendiri.

Di Sidogiri, beliau tidak langsung njujuk ndalem, apalagi didahului ajudan yang telpan-telpon untuk minta disediakan ini dan itu.

Beliau duduk di salah satu warung yang menjamur di sekitar pondok. Membaur bersama para wali santri lain. Memesan kopi dan ngudud layaknya warga biasa.

Beliau bukan warga biasa. Beliau adalah Rais Aam jam'iyah yang kekeramatannya sudah teruji seabad lebih!

Sewaktu ditanyakan mengapa beliau sering kalau tindak untuk hadir acara menyupiri sendiri?

Beliau dengan senyum khasnya menjawab "Saya itu lihat rata-rata Rois Aam punya keistimewaan sendiri. Ada yang muhaddits, alim fiqih, ada yang sufi. Keistimewaan saya mungkin ya ini bisa nyupir!"

Demikianlah kalau tawadhu itu sudah mendarah-daging. Refleksnya saja merendah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X