Krisis Energi Meluas, Asia Terpaksa Ubah Pola Hidup Akibat Perang Timur Tengah

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Kamis, 19 Maret 2026 | 11:08 WIB
Kapal militer melintas di Selat Hormuz saat ketegangan meningkat, sementara upaya Donald Trump membangun koalisi menghadapi penolakan sekutu. (Ilustrasi dibuat ChatGPT)
Kapal militer melintas di Selat Hormuz saat ketegangan meningkat, sementara upaya Donald Trump membangun koalisi menghadapi penolakan sekutu. (Ilustrasi dibuat ChatGPT)

JOURNALNUSANTARA.COM - Kondisi geopolitik di Timur Tengah kini berdampak langsung pada denyut nadi kehidupan masyarakat di berbagai negara Asia.

Ketegangan yang dipicu oleh konflik Iran serta blokade di Selat Hormuz telah memutus rantai pasokan minyak secara drastis.

Mengingat hampir sembilan puluh persen kebutuhan energi Benua Kuning melintasi jalur tersebut, krisis bahan bakar pun tidak terelakkan lagi.

Sri Lanka menjadi salah satu negara yang mengambil langkah paling ekstrem dalam menghadapi situasi sulit ini.

Pemerintah setempat secara resmi menetapkan hari Rabu sebagai hari libur nasional tambahan mulai pertengahan Maret 2026.

Kebijakan ini mengubah tatanan kerja menjadi empat hari dalam seminggu untuk menghemat penggunaan energi secara masif.

Aturan tersebut mencakup penutupan seluruh kantor pemerintahan, sekolah, hingga universitas di seluruh negeri.

Meskipun demikian, fasilitas vital seperti rumah sakit tetap diinstruksikan untuk beroperasi demi pelayanan publik.

Langkah darurat ini diambil sebagai respon langsung atas kelangkaan stok BBM yang kian mencekik mobilitas warga.

Selain meliburkan aktivitas, sistem penjatahan bahan bakar melalui kode QR kini dihidupkan kembali seperti masa krisis tahun 2022.

Pemilik mobil pribadi hanya diperbolehkan mengisi lima belas liter bensin per minggu, sementara pengendara motor dibatasi hanya lima liter.

Pembatasan ketat ini memaksa masyarakat untuk memutar otak dalam mengatur perjalanan harian mereka.

Fenomena ini ternyata merembet ke negara tetangga lainnya dengan berbagai kebijakan unik dan darurat.

Thailand memberikan himbauan agar masyarakat tidak mengenakan jas dan memilih pakaian ringan guna menekan penggunaan pendingin ruangan.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Penentuan 1 Syawal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB

Tangan Tetap di Pelatuk, Memaksa Zionis Tunduk

Jumat, 10 Oktober 2025 | 07:30 WIB

Delegasi Pesantren Al Masykuriyyah di Uzbekistan

Minggu, 28 September 2025 | 17:48 WIB
X