Oleh: Abdur Rahman El Syarif
Berangkat dari terminal keberangkatan yang ramai, tampak rombongan delegasi Pondok Al-Masykuriyyah dengan wajah-wajah penuh cahaya dan hati berbalut doa.
Mereka bersiap menempuh perjalanan panjang menuju tanah para sufi, Uzbekistan, guna menghadiri International Conference Naqshbandi.
Dalam barisan itu, tampak sosok Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa berdiri di tengah, menebar wibawa sekaligus kehangatan seorang guru bangsa.
Momen ini bukan sekadar perjalanan fisik lintas benua, melainkan juga sebuah safar ruhani yang membawa amanah besar: menyambungkan sanad ilmu, mempererat persaudaraan antarumat, dan menggali kembali jejak agung para masyayikh Naqsyabandiyah.
Dari Surabaya menuju Samarkand, dari Madura ke Bukhara, terhampar jembatan tak kasatmata yang menyatukan masa lalu, kini, dan esok dalam satu tarikan napas spiritual.
Semoga keberangkatan ini menjadi pintu terbukanya berkah, mengalirkan hikmah bagi pondok, negeri, dan umat.
Doa kita mengiringi semoga delegasi ini pulang dengan membawa kabar gembira, ilmu yang bermanfaat, dan rahmat yang meluas, sebagaimana mata air jernih yang tak pernah kering.
Artikel Terkait
Dari Parade Raksasa Menuju Kolaborasi Lebah
Waspada di Meja Makan, Tiga Kunci Mengonsumsi Makanan Aman
Hidup Segar dari Akar, Mengapa Sayuran Harus Jadi Bintang Utama
Waspada Minuman yang Mengancam Kesehatan
Dua Sisi Mata Uang, Risiko dan Bahaya di Balik Olahraga
Kukuhkan DP MUI 27 Kecamatan se-Lamongan, KH. M. Said Humaidy: MUI Sebagai Khadimul Ummah dan Shadiqul Hukumah
Mutiara Pagi: Mutiara Cintaku (Bagian 1980)
Kisah Partai Ka’bah: Satu Muktamar, Dua Aklamasi
Mutiara Pagi: Bunga Kasih di Pelaminan (Bagian 1981)
Tiga Periode Beruntun, Kades Arusman di Pematang Cengal Buktikan Loyalitas Berkat Terbuka pada Kritik