Dari Parade Raksasa Menuju Kolaborasi Lebah

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 27 September 2025 | 06:35 WIB
Lebah Bukan Cuma Penghasil Madu Ada Spesies yang Bisa Membuat Sarang di Dalam Mobil (fumida.co.id)
Lebah Bukan Cuma Penghasil Madu Ada Spesies yang Bisa Membuat Sarang di Dalam Mobil (fumida.co.id)

Saudaraku, hari keenam tak dinamai sittah, melainkan Jum‘at hari ketika manusia dipanggil untuk berkumpul dalam kejamakan. Ironisnya, alih-alih melahirkan harmoni, perkumpulan kita sering menjelma parade binatang raksasa.

Ada gajah yang gemar memamerkan tubuhnya, banteng yang suka menyeruduk, dan elang yang sibuk mengepakkan kebesaran. Mereka berlomba menutupi langit dengan bayangannya, seakan perkumpulan hanyalah pentas bagi ego-ego besar.

Padahal, sebaik-baiknya perkumpulan tak ditentukan oleh siapa yang paling kuat atau menakutkan. Lebah kecil memberi teladan nyata: tak ada satu pun yang merasa dirinya pusat sarang, namun dari kerja kolektif yang tekun lahirlah bangun segi enam yang kokoh.

Dari sana, meneteslah madu manis bagi semua, bahkan bagi yang tak ikut membangunnya. Inilah esensi kebersamaan yang sejati manfaatnya merata, bukan dinikmati segelintir pihak.

Sayangnya, di negeri ini, perkumpulan sering jadi hak monopoli para raksasa. Rakyat dipanggil hanya untuk bertepuk tangan, mengibarkan bendera, atau menjadi latar kerumunan.

Yang besar disembah seolah tahu arah, padahal kerap buta oleh nafsu dan mabuk kuasa. Sementara suara-suara kecil penyimpan kebijaksanaan keseharian dibungkam di sudut-sudut sarang yang tak pernah sempat jadi madu.

Akibatnya, alih-alih melahirkan harmoni, perkumpulan berubah menjadi arena injak-injak. Gajah berebut panggung, banteng berdesakan, elang menukik mencari mangsa.

Yang tersisa hanyalah debu, bukan sari kehidupan. Rakyat kecil, seperti lebah yang terbuang, hanya bisa berdesis pelan di antara bunga-bunga yang tak lagi berani mekar.

Jum‘at mestinya mengingatkan kita: perkumpulan bukan milik satu sosok atau lambang, melainkan manifestasi aspirasi kolektif, segi-segi kecil yang saling mengisi hingga kokoh. Jika kita masih menyerahkannya pada gajah, banteng, dan garuda, ia hanya jadi pesta bising.

Namun, bila kita berani belajar dari lebah menghargai yang kecil, merawat kolaborasi, membangun sarang dengan kesetiaan dan keadilan maka Jum‘at kembali bermakna bukan kerumunan yang riuh, melainkan perkumpulan yang berbuah manis, tempat setiap orang berhak mengecap madu kebahagiaan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Seni Membangun Kepercayaan Diri di Atas Panggung

Selasa, 2 Juni 2026 | 07:44 WIB
X