Yang mengkhawatirkan, ASEAN belum bersuara lantang dalam isu ini. Padahal, kejahatan lintas negara seperti scam dan judol telah menciptakan penderitaan bagi puluhan ribu warga Asia Tenggara. Ketika para pemimpin negara memilih bungkam demi stabilitas politik dan relasi personal, korban justru terus berjatuhan.
Konflik ini menjadi potret gelap Asia Tenggara modern: percampuran antara kekuasaan politik dinasti, kejahatan digital, dan militerisasi perbatasan. Jika tidak ada upaya transparan dan kolaboratif untuk memberantas akar masalah ini, kawasan ini akan terus terjebak dalam siklus perbudakan digital yang dijaga oleh senjata dan ditutupi oleh senyum diplomasi.
Indonesia pun harus waspada. Sebagai negara dengan jumlah pengguna internet dan pekerja migran digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia sangat rentan menjadi sasaran sindikat scam lintas negara. Tidak sedikit warga Indonesia yang telah menjadi korban baik sebagai pekerja paksa di luar negeri maupun sebagai target penipuan daring.
Pemerintah Indonesia perlu meningkatkan kerja sama regional, memperketat pengawasan perekrutan tenaga kerja, serta memberantas jaringan lokal yang menjadi kaki tangan sindikat global ini. Indonesia tidak boleh lengah, karena kelengahan hari ini bisa menjadi bencana kemanusiaan esok hari.
(Budhiana Kartawijaya)
Artikel Terkait
Sibuk Merawat Fisik, Namun Jiwa Sekarat
Partai Lebah
Haruskah Diam atau Bereaksi ?
Seminar Mahasiswa KKN STAI Al-Azhary Cianjur, Dorong UMKM Naik Kelas dan Peduli Lingkungan
Mutiara Pagi: Kesederhanaan (Bagian 1914)
Kisah Kelam Eks Cakrabirawa yang Terjebak di Tengah G30S
Batuk, Pertolongan Alami di Balik Pintu Dapur
Melawan Terik Matahari, Tetap Adem di Tengah Cuaca Panas Menyengat
Polisi Bukan Damkar, Warga Tahu Mana yang Dibenci dan Mana yang Dicintai
Dunia Penjara Tanpa Jeruji