Judi Online di Balik Konflik Thailand-Kamboja?

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 28 Juli 2025 | 20:00 WIB
Thailand dan Kamboja memiliki sejarah panjang konflik, dan bentrokan terbaru ini dapat memicu eskalasi lebih lanjut jika tidak segera ditangani dengan bijak.
Thailand dan Kamboja memiliki sejarah panjang konflik, dan bentrokan terbaru ini dapat memicu eskalasi lebih lanjut jika tidak segera ditangani dengan bijak.

Journalnusantara.com - Ketegangan terbaru antara Thailand dan Kamboja menandai babak baru dalam konflik kawasan Asia Tenggara. Jika dahulu sengketa perbatasan, etnisitas, dan perebutan sumber daya menjadi pemicu utama, kini muncul faktor baru: judi online (judol) dan scam digital lintas negara.

Kejahatan siber ini bukan hanya menciptakan penderitaan bagi individu, tetapi juga mulai memengaruhi hubungan antarnegara dan politik domestik.

Ketegangan memuncak setelah seorang warga Thailand ditembak mati oleh aparat Kamboja di wilayah perbatasan Chong Bok pada Mei 2025. Pria itu tengah mencari saudaranya yang hilang dan diduga menjadi korban sindikat scam daring.

Dalam insiden terpisah, Alongkorn Deeying (31), warga Thailand lainnya, ditemukan tewas setelah jatuh dari lantai 13 sebuah gedung di kota Poipet. Gedung itu diketahui sebagai markas operasi scam daring. Alongkorn diduga mencoba kabur dari sindikat yang memperkerjakannya secara paksa.

Kedua insiden ini menyoroti kenyataan yang lebih besar: Kamboja kini menjadi episentrum baru bagi bisnis scam dan judi online global. Menurut laporan berbagai organisasi HAM dan media internasional, setidaknya ada 51 kota di Kamboja (terbanyak di kota-kota perbatasan Kamboja-Thailand)—terutama Poipet, Bavet, Sihanoukville, dan Koh Kong—yang menjadi markas besar jaringan kriminal transnasional. Ribuan korban dari Thailand, Indonesia, Tiongkok, Vietnam, dan Filipina terjebak dalam sistem perbudakan digital ini.

Mereka direkrut melalui lowongan kerja palsu, lalu diculik secara halus, dikurung, dan dipaksa melakukan kejahatan daring seperti love scam, phishing, penipuan investasi, dan pencurian data. Jika gagal mencapai target, mereka akan disiksa, disetrum, atau dibiarkan kelaparan.

Tokoh oposisi Kamboja, Sam Rainsy, menyatakan bahwa bisnis ini tidak mungkin bertahan tanpa perlindungan dari elite politik dan militer. Ia menyebut bahwa Hun Sen, mantan perdana menteri dan kini Ketua Senat serta Ketua Partai Rakyat Kamboja (PRK), tetap mengendalikan struktur kekuasaan negara—meski secara formal telah menyerahkan jabatan PM kepada putranya, Hun Manet, yang juga menjabat panglima militer.

Salah satu tokoh yang disebut terlibat dalam bisnis ini adalah Hun To, sepupu Hun Manet, yang dikaitkan dengan perusahaan-perusahaan keuangan digital pendukung aktivitas scam daring. Situasi ini menjadikan politik dinasti dan bisnis kriminal saling menopang, menciptakan jaringan kuasa yang sulit disentuh hukum.

Untuk memahami akar ketegangan ini, penting melihat latar belakang sejarah dan etnisitas kedua negara. Thailand mayoritas dihuni etnis Siam, sedangkan Kamboja oleh etnis Khmer. Sengketa atas kuil Preah Vihear telah menjadi luka lama sejak Mahkamah Internasional memutuskan kepemilikannya kepada Kamboja pada 1952. Di masa lalu, konflik sempat mereda saat PM Thailand Thaksin Shinawatra menjalin hubungan dekat dengan Hun Sen.

Thaksin berasal dari keluarga keturunan Tionghoa-Hakka. Setelah dikudeta militer pada 2006, ia mengungsi ke luar negeri dan diberi posisi penasihat ekonomi oleh Hun Sen. Hubungan inilah yang memicu ketegangan antara Hun Sen dan militer Thailand. Kini, politik dinasti berlanjut: Paetongtarn Shinawatra, putri Thaksin, menjabat sebagai PM Thailand, sementara Hun Manet memimpin Kamboja.

Pasca-penembakan di Chong Bok, militer Thailand yang dipimpin Jenderal Songwit Noonpakdee mendesak investigasi resmi. Komandan Wilayah Angkatan Darat ke-2 Thailand, Letjen Boonsin Padklang, juga memperketat penjagaan perbatasan dan mengecam insiden tersebut. Namun, langkah mengejutkan datang dari PM Paetongtarn. Ia memilih menghubungi Hun Sen melalui jalur pribadi, meminta "pengertian" atas reaksi militer dan menyebut Boonsin sebagai pihak yang ingin "terlihat tegas".

Yang terjadi selanjutnya mengguncang politik Thailand: Hun Sen membocorkan isi percakapan pribadi itu ke publik. Dalam rekaman berdurasi 17 menit, Paetongtarn menyebut Hun Sen sebagai "uncle", dan dirinya sebagai "niece", serta menawarkan bantuan agar situasi tetap kondusif. Ia bahkan menyatakan kesediaannya untuk "mengurus" jika Hun Sen butuh sesuatu. Kebocoran ini menimbulkan skandal besar di Thailand.

Reaksi keras datang dari militer dan publik. Paetongtarn dianggap merendahkan martabat negara dan berpihak pada kepentingan personal. Mahkamah Konstitusi pun turun tangan, dan perannya sebagai PM ditangguhkan sementara. Di saat yang sama, Hun Sen memanfaatkan situasi ini untuk menunjukkan bahwa ia tetap pemain utama di kawasan.

Sam Rainsy menilai bahwa konflik perbatasan ini sebenarnya hanyalah puncak gunung es. Ia menuding adanya "pembersihan internal" dalam sindikat scam yang sering diwujudkan melalui kekerasan bersenjata di perbatasan. Dalam pandangannya, konflik ini lebih bersifat ekonomi dan kriminal, bukan nasionalistik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jalan Maju Chile

Rabu, 8 Juli 2026 | 06:44 WIB

Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:19 WIB

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB
X